Friday, April 30, 2010

Semua Pemain ‘Gigolo Bali’ dari Jatim

Film dokumenter Cowboys in Paradise terus menuai kontroversi. Film yang menggemparkan dan kini disidik Polda Bali itu, bercerita mengenai kehidupan para pria penjaja seks alias gigolo di Pantai Kuta, Bali. Yang mengejutkan, ketiga pemain dalam film itu ternyata dari Jawa Timur.

Kontroversial semakin mencuat setelah para pelaku yang dicap gigolo dalam film itu memenuhi panggilan Direktorat Reskrim Polda Bali di Denpasar, Kamis (29/4). Mereka masing-masing Rosnan Efendik (Fendi) asal Lumajang, Sugiarto (Argo), dan Suwarno (Arnold) asal Banyuwangi, membantah keras disebut gigolo. Mereka mengaku tak sadar telah ditipu oleh sang sutradara asal Singapura, Amit Virmani.

“Ketiga aktor yang tampil dalam film, yang mengundang protes masyarakat Pulau Dewata, itu kami panggil untuk dimintai keterangan,” kata Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Gde Sugianyar di Denpasar.

Ia menyebutkan, ketiga aktor yang berperan sebagai gigolo pada film tersebut, diminta keterangan dalam kapasitas sebagai saksi. “Jadi kami panggil mereka hanya sebatas sebagai saksi sehubungan film yang dibintanginya cukup menghebohkan, serta ada dugaan telah terjadi pelanggaran,” kata Kombes Sugianyar.

Ketiga pemuda yang kesehariannya mengaku sebagai instruktur surfing di Pantai Kuta itu, tiba di kantor polisi langsung digiring ke ruangan Satuan Tindak Pidana Tertentu (Sattipiter) Ditreskrim Polda Bali, guna menjalani pemeriksaan.

Menurut Sugianyar, selain dimintai keterangan, ketiganya juga berencana melaporkan sutradara film tersebut, yang dianggap telah mencemarkan nama baik mereka.

Ketika aktor tersebut mengaku telah ditipu sutradara yang disebut bernama Amit Virmani, pria berdarah India yang kini menetap di Singapura. Para aktor mengaku tidak tahu bahwa hasil pengambilan gambar atas diri mereka di Pantai Kuta pada 2007, dilakukan untuk kepentingan produksi sebuah film dokumenter.

“Kami betul-betul tidak tahu kalau itu untuk film dokumenter, terlebih dengan tema kehidupan para gigolo di Kuta,” kata Arnold, sebelum menjalani pemeriksaan.

Ketiga orang yang masing-masing berumur 29 tahun itu sebelumnya juga mengakui, sejak 2007 sudah saling kenal dengan sang sutradara Amit Virmani, sehubungan dia sering nongkrong di Pantai Kuta.

“Menurut keterangan mereka, mulanya sutradara itu datang dengan membawa kamera besar dan merekam aksi mereka ketika surfing. Mereka senang saja diambil gambarnya, dan mulai saat itulah mereka akrab,” ujar Sugianyar.

Hubungan antarmereka menjadi bertambah akrab setelah Arnold berhasil mempersunting istri yang seorang warga negara asing. Sementara rekannya Argo dan Fendik, selama ini mengaku banyak bergaul dengan komunitas bule di Kuta, sehingga pertemuannya dengan Amit merupakan sesuatu yang mereka anggap lumrah dan biasa.

“Kami sudah biasa dengan bule, ya ketika diambil gambar dengan kamera, ya biasa-biasa saja, tidak ada curiga apa-apa,” kata Argo yang tampak dalam film tersebut tengah dipijat oleh seorang perempuan bule.

Ketiga pemain film kontroversial itu, ketika diwawancarai senada, mengatakan tidak terima bila nanti dijadikan tersangka dalam kasus ini. “Justru kami yang akan melapor karena nama baik kami sudah dicemarkan,” kata Argo.

Akibat munculnya cuplikan film tersebut di internet, dirinya kerap dipandang negatif oleh keluarga dan teman-temnnya. “Orangtua saya marah setelah melihat itu. Dia bilang, kayak apa kamu di sini, pulang aja,” katanya.

Dampak lain, kehidupan beach boy atau anak pantai menjadi terganggu. Menurut Arnold, masyarakat menjadi risih menggunakan jasa mereka sebagai pelatih selancar. Dalam film tersebut, Arnold tampak pada bagian pembukaan dan mengucapkan, “I think I know you”.

Sementara sesuai instruksi Kapolda Bali Irjen Pol Sutisna, saat ini Ditreskrim telah membentuk tim khusus untuk menangani kasus itu dengan melibatkan tim cyber crime.

“Dilibatkannya tim cyber crime adalah untuk menelusuri bukti-bukti pendukung. Mengingat tayangan ini beredar luas di internet melalui situs youtube,” ujar Sugianyar.

Selain tiga nama pemeran dalam film yang saat ini telah diperiksa, polisi juga berencana melakukan pemanggilan saksi lain untuk dimintai keterangan.

“Kemungkinan lebih dari lima saksi akan kami panggil untuk dimintai keterangan untuk dapat mengungkap adanya kasus pelanggaran dalam produksi film tersebut,” katanya.

Menyebar Luas

Film Cowboys in Paradise, garapan sutradara berdarah India, yang kini menetap di Singapura, itu merupakan film dokumenter yang mengisahkan sepak terjang para gigolo alias pria penjaja seks di Pantai Kuta, hingga menjadikan Bali sebagai tujuan wisata yang menarik bagi para turis asing perempuan. Film itu beredar luas di internet dan menjadi perbincangan heboh setelah di-upload melalui youtube.

Masyarakat, terutama di Bali, protes lantaran pengambilan gambar film dilakukan di Pantai Kuta. Hal tersebut dinilai telah merusak citra pariwisata Pulau Dewata yang lebih mengedepankan seni dan budaya. Apalagi film itu ramai dibicarakan setelah Bali dihebohkan pemberitaan kasus fedofilia, dan terakhir kasus pemerkosaan sejumlah siswa SD.

Reaksi pun bermunculan. Gubernur Bali I Made Pastika langsung memerintahkan satgas Pantai Kuta melakukan razia, mendata, dan memeriksa para beach boy yang biasa berkeliaran di Pantai Kuta. Pastika berjanji, akan mengusut tuntas beredarnya film yang dianggap telah mencemarkan nama Bali itu. Reaksi juga datang dari kalangan tokoh adat Bali, yang meski tak menampik kenyataan adanya gigolo, tapi buat mereka, para penjaja seks tersebut telah mencemarkan daerah dan tradisi mereka.

Merespons perintah gubernur, Satgas Pengamanan Pantai Kuta, Bali, Senin (26/4), menggelar razia gigolo di Pantai Kuta. Razia yang digelar menjelang sore ini menyisir tempat-tempat yang diduga sebagai lokasi mangkalnya para gigolo. Anggota satgas memeriksa kartu tanda pengenal terhadap pemuda yang dicurigai sebagai gigolo. Bagi yang tidak memiliki KTP langsung digelandang ke kantor satgas.

Hasilnya, puluhan pemuda tanpa KTP diperiksa lebih detail, apakah mereka benar-benar berprofesi sebagai gigolo. Mereka rata-rata berkulit hitam akibat kerap berjemur matahari dengan dandanan santai rambut dicat dan berkaca mata pantai.

Sutradara film Cowboys in Paradise, Amit Virmani, mengaku, film pendek dokumenter dibuat untuk memotret sisi lain dari pariwisata Bali. Menurutnya, cowboy yang berbeda tipis dengan gigolo sudah ada sejak dulu di Bali, sehingga lahirlah gagasan untuk membuat film pendek dokumenter tentang mereka.

“Saya selalu menyukai film, dan ketika saya meneliti cowboys, tiba-tiba saya mendapat ide untuk membuat film dokumenter, dengan gagasan yang bisa merebut perhatian Anda,” kata Virmani dikutip dari twitschfilm.net, Rabu (28/4).

Pria berdarah India itu mengaku sudah lama mengetahui ada cowboy di Bali. “Sebenarnya, saya telah mengetahui tentang cowboys dan fenomena yang mirip di tempat lain,” terang Virmani. Ia melanjutkan, turis perempuan yang mencari teman untuk menikmati Bali, termasuk untuk mendapat pemenuhan kebutuhan seks, dan para pemuda di Bali yang demi uang memberi pelayanan, tidak terkecuali seks, merupakan masalah besar. “Tetapi, mereka adalah kenyataan,” katanya.

Keinginan Virmani untuk membuat film dokumenter tentang cowboy bertambah kuat ketika beberapa tahun lalu ia bertemu dengan seorang anak di Bali yang membuatnya begitu terkejut. “Seorang anak berusia kira-kira 12 tahun di Bali itu berhasrat, kalau besar nanti ia akan menjadi penjaja seks untuk perempuan-perempuan Jepang,” cerita Virmani. Virmani mengakui cowboy dan gigolo tulen mempunyai sedikit perbedaan karena cowboy tidak sekadar memberikan pelayanan seks. Mereka juga berfungsi sebagai teman alias pemandu wisata tidak resmi.

Polda Bali menegaskan, film dokumenter Cowboys in Paradise ilegal. Sebab, film tersebut tidak memiliki izin syuting.

Selain melanggar Undang-undang Perfilman, sang sutradara Amit Virmani juga diduga melanggar Undang-undang Imigrasi. Sebab, saat berkunjung ke Bali, Virmani yang merupakan warga India, menggunakan visa turis. Ia bisa dikenai hukuman satu tahun penjara dan denda Rp 40 juta rupiah
http://www.surya.co.id/2010/04/30/semua-pemain-gigolo-bali-dari-jatim.html

6 Truk Dalmas Polwil Dipreteli Pencuri

Aksi pencurian ini tergolong super nekat. Entah bagaimana caranya, si pencuri ini dengan beraninya menjadikan markas polisi sebagai sasaran aksinya. Rabu (28/4), Polwiltabes Surabaya geger. Enam speedometer truk pengangkut pasukan pengendalian massa (Dalmas) milik Polwiltabes digondol pencuri saat diparkir di halaman tengah markas yang terletak di Jl Sikatan itu.

Hilangnya speedometer truk Dalmas itu baru diketahui saat truk akan digunakan untuk mengangkut puluhan polisi ke pos-pos yang tersebar di seluruh Surabaya sekitar pukul 06.00 WIB. Begitu diketahui sebagian peralatan di enam truk Dalmas itu dipreteli pencuri, keberangkatan puluhan polisi pun tertunda beberapa saat.

Hilangnya enam buah speedometer itu sampai juga ke telinga Kapolwiltabes Surabaya Kombes Pol Drs Ike Edwin. Tak pelak, seluruh anggota Reskrim, Samapta hingga PNS yang bekerja di lingkungan Polwiltabes Surabaya ‘diomeli’ saat apel pagi. Pasalnya, hilangnya enam speedometer justru terjadi di lingkungan mapolwiltabes.

Berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan, enam truk Dalmas itu pada Rabu dini hari sekitar pukul 00.00 WIB hingga pukul 01.00 WIB dipakai operasi intensif (opensif). Kemudian truk tersebut diparkir di halaman tengah dekat SPBU milik Polwiltabes. “Perkiraan hilangnya antara pukul 02.00 WIB sampai pukul 03.00 WIB,” ujar sumber Surya di mapolwiltabes.

Menurut sumber tadi, orang yang mencuri speedometer ini termasuk ‘mbahnya’ maling, karena berani beraksi di lingkungan markas kepolisian. Hilangnya barangnya itu ditengarai karena ada orang lain yang menyusup dengan cara melompat pagar sebelah utara, yakni pagar yang memisahkan mapolwiltabes dengan Jl Cendrawasih (arah dari Jl Rajawali menuju Jl Sikatan).

Diduga melompat pagar, karena pintu gerbang di sebelah utara maupun selatan yang tingginya sekitar dua meter, selalu ditutup sejak pukul 18.00 WIB.

“Bisa jadi ada kerjasama pelaku dengan orang dalam,” jelas sumber itu.

Dikatakan sumber tadi, memang bukan masalah nominal kerugian yang menjadi persoalan, tetapi yang jadi masalah, mengapa kantor polisi yang bisa diobok-obok pencuri. “Satu speedometer harganya mungkin Rp 1 juta,” paparnya.

Pascahilangnya speedometer, bukan hanya jajaran Reskrim di Polwiltabes Surabaya yang dibuat sibuk. Namun, polisi juga menerjunkan anjing pelacak untuk mendeteksi pelaku. Namun dalam pendeteksian itu tidak menemukan hasil. Anjing pelacak hanya memutar-mutar di sekitar truk. Diperkirakan, pelaku saat mengambil speedometer lebih dulu menyelinap di bawah truk.

Hingga sore kemarin, anggota reskrim yang turun ke lapangan juga mencari ke berbagai tempat penjualan barang bekas di Surabaya. Namun speedometer hasil curian tersebut belum juga ditemukan. Hingga tadi malam Kapolwiltabes Surabaya Kombes Pol Drs Ike Edwih belum berhasil dimintai keterangan. Ia tidak mengangkat ketika Surya mencoba menghubungi melalui ponselnya http://www.surya.co.id/2010/04/29/6-truk-dalmas-polwil-dipreteli-pencuri.html

PNS Lulusan Sarjana Jadi Tenaga Kebersihan

Seorang pegawai negeri sipil (PNS) dengan golongan pangkat III/a, yang bekerja pada Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Riau, menjadi pelayan kebersihan di kantor yang mengurusi dunia pendidikan itu.

PNS itu bernama Jack Lord (31), lulusan terbaik pada Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Riau (UNRI) dengan indeks prestasi kumulatif 3,75.

“Meski saya telah sarjana dan melakukan penyesuaian kepangkatan III/a, namun tugas keseharian saya masih menjadi petugas kebersihan di LPMP Riau,” ujar Jack, kepada wartawan di Pekanbaru, Rabu (28/4).

Menurut pemuda kelahiran Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, pada 6 Maret 1979 itu, dirinya telah mendapatkan diskriminasi di tempatnya bekerja.

Dia menjelaskan, ketika dirinya lolos menjadi calon PNS tahun 2002, setahun kemudian dirinya dipaksa untuk menandatangani surat pernyataan, yang antara lain isinya menyebutkan dia sebagai tenaga kebersihan, pengelola asrama dan satuan pengamanan di instansi itu.

Selain itu, dalam surat pernyataan bermaterai Rp 6.000 itu juga dijelaskan bahwa dirinya tidak akan menuntut penyesuaian ijazah yang diperolehnya di kemudian hari, dan bersedia mematuhi segala peraturan yang ada di instansi pendidikan itu.

“Saya dipaksa harus meneken semua pernyataan itu dengan ancaman Surat Kelulusan (SK) PNS saya tidak diberikan jika tidak tidak meneken surat itu pada 10 Februari 2003, dari waktu pernyataan itu disodorkan pada saya 7 Januari 2003,” katanya.

“SK penyesuaian saya telah ditandatangai oleh Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2007, namun surat itu tidak disampaikan kepada saya dan baru saya ketahui setahun kemudian. Kendati demikian tugas keseharian saya masih menjadi tenaga kebersihan,” ujar Jack.

Pihak LPMP Riau membantah tudingan yang dilontarkan oleh pegawainya itu. “Ketika masuk memang dia (Jack) menandatangani surat pernyataan, namun bukan berarti kami tidak merespon keinginan beliau sesuai jenjang karir,” kata Kepala LPMP Riau, Zainal Arifin.

“Namun masalahnya Jack merupakan lulusan ilmu pemerintahan, sedangkan kualifikasi dengan jurusan itu tidak ada di LPMP sehingga dia kami tempatkan sebagai penanggung jawab penata ruang kelas dan ruang kuliah,” katanya lagi.

http://www.surya.co.id/2010/04/29/pns-lulusan-sarjana-jadi-tenaga-kebersihan.html

Wednesday, April 28, 2010

Ternyata, Ada 5 SMA DIY Lulus Nol Persen

Kementerian Pendidikan mengungkapkan ada lima sekolah menengah atas (SMA) di Provinsi DIY memiliki tingkat kelulusan nol persen. Kelimanya adalah SMA BOPKRI 3, SMA Perak Kota Yogyakarta, SMA Pembangunan 4 Playen Gunung Kidul, SMA Binatama dan SMA Ikip Veteran Sleman Yogyakarta.

Terhadap kondisi ini, Kemendiknas akan menerapkan kebijakan khusus. Demikian disampaikan oleh Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh di Jakarta, Selasa (27/4). Menurutnya, secara nasional ada 267 SMA atau 7.648 siswa yang tidak mampu meluluskan siswanya dalam ujian nasional (UN).

Mendiknas menuturkan sekolah dan siswa yang tidak lulus UN ada di Kalimantan Timur sebanyak 39 SMA dengan 1158 siswa, lalu DKI ada 10 SMA dengan 143 siswa, Jawa Tengah 10 SMA dengan 149 siswa dan 5 SMA dengan 91 siswa. Sedangkan untuk SMA di Jawa Tengah ada SMA Mangunkarsa Semarang, SMA Ala Abidin Surakarta, SMA Jenderal Sudirman, SMA Bahari, SMA Kampung Laut, MA Maarif Nurul Huda Patimuan. Ada juga MA Ma'arif Darul Aman Pringsurat Temanggung dan SMA Muhammadiyah 3 Boyolali.

"Untuk mata pelajaran yang mengganjal kelulusan siswa adalah Bahasa Indonesia untuk semua jurusan. Ada 28,57 % siswa IPA yang tidak lulus Bahasa Indonesia, siswa IPS 37,87 % dan siswa bahasa sendiri 62,28 %," paparnya.

Terhadap kondisi ini, Mendiknas akan melakukan intervensi kepada sekolah seperti penambahan dana bantuan operasional sekolah, peningkatan pendidikan dan pelatihan guru hingga sarana infrastruktur lainnya. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab kegagalan siswa dalam UN.

"Dengan hasil pemetaan secara rinci ini kami berharap intervensi yang cocok akan bisa menjadi solusi memperbaiki mutu pendidikan secara nasional," tandasnya.

http://www.krjogja.com/news/detail/30408/Ternyata..Ada.5.SMA.DIY.Lulus.Nol.Persen.html