Showing posts with label Jawa Barat. Show all posts
Showing posts with label Jawa Barat. Show all posts

Monday, August 8, 2011

Jaksa Ini Tega Terima Uang Rp 2 Juta dari Tukang Becak

Nani Suriyati mengaku terkejut ketika mengetahui Hasan mendekam di Rumah Tahanan Kota Cirebon. Nani adalah pemilik Toko Jihan, di Pusat Grosir Cirebon (PGC) Kota Cirebon. Toko itu kehilangan dua tas sekolah, yang diambil oleh Hasan, menjelang toko yang terletak di lantai satu itu tutup.

"Saya sudah memberikan maaf. Apalagi harga dua tas itu tidak lebih dari Rp 100 ribu. Saya pikir dia sudah bebas dan tidak jadi ditahan. Saya pun tidak pernah mempersulit masalahnya dan saya pikir sudah selesai," kata perempuan berusia 34 tahun ini ketika ditemui di tokonya, Jumat (5/8/2011).

Nani mengatakan, setidaknya sudah dua kali ada yang datang untuk memintanya mencabut tuntutan, yaitu istri Hasan, Sri Mulyati, dan sejumlah orang yang mengaku dari kalangan majelis taklim di sekitar rumah Hasan. Mereka bercerita bahwa Hasan orang yang baik.

"Ya, berarti memang orangnya baik karena sampai majelis taklimnya saja datang ke sini. Mungkin Hasan khilaf. Saya juga sebenarnya sudah bilang tidak usah diperpanjang, tapi tetap dilaporkan satpam ke polisi," ujar perempuan berambut pendek dan memiliki tiga petak toko ini.

Nani mengaku sudah menandatangani surat pencabutan perkara yang disodorkan langsung oleh Sri Muryati dan rombongan majelis taklim itu. Bahkan tidak sampai di situ. Pada saat sidang perdana, Nani juga menegaskan kepada majelis hakim agar tidak memperpanjang masalah lagi.

"Pada sidang pertama, saya justru bilang sama ketua hakimnya agar Hasan dibebaskan saja. Saya pikir setelah itu dia dibebaskan. Tapi ternyata belum, dan baru tahu kalau Hasan akhirnya ditahan. Ya, mungkin dia khilaf, kasihan," ujarnya.

Nani mengatakan, peristiwa pencurian yang dilakukan Hasan terjadi pada April. Dia ingat peristiwa itu terjadi pada saat dia dan sejumlah karyawannya duduk di depan toko. Karena tokonya terletak di pojok, bagian samping tidak ada yang mengawasi. Pada saat itulah Hasan mencuri dua buah tas.

"Dia ditangkap orang PGC. Memang hanya terlihat satu unit tas dibawa. Tapi ternyata setelah digeledah lagi, ditemukan satu tas, sepatu dua pasang, dan satu mainan anak yang dimasukkan ke karung. Dia minta maaf dan saya sih memberikan maaf. Kejadian itu saat toko hendak tutup sekitar pukul 20.00," katanya.

Sri Mulyati istri Hasan, warga Jalan Samadikun, Gang Empang 3, RT 04/03, Kecamatan Kejaksaan, Kota Cirebon, menangis di ruang Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kota Cirebon, Trijoko Sutanto, Rabu (3/8/2011). Sembari menggendong dua anaknya yang masih kecil, perempuan berusia 35 tahun ini mengadukan nasibnya.

Dia mengaku ditipu oleh seorang jaksa yang bernama NS, yang tertera di struktural Kajari menjabat sebagai Kasubsi Tut Pidum Kajari Kota Cirebon. Sri memberikan sejumlah uang agar suaminya, Hasan, dihukum ringan.

Namun, begitu uang Rp 2 juta sudah diserahkan, jaksa tersebut tidak pernah muncul dalam persidangan terakhir. Apalagi pada saat pembacaan vonis terhadap terdakwa pada 26 Juli, Hasan divonis empat bulan penjara. Bahkan, vonis itu masih banding.

"Yang penting dikembalikan saja uangnya buat makan dan anak sekolah. Uang itu juga merupakan utang kepada kakak saya. Saya berikan uang itu karena jaksa itu bilang bisa membantu meringankan hukuman suami saya," kata Sri.

Menurut Sri, uang sebesar itu begitu berharga, apalagi suaminya hanya bekerja sebagai sopir becak dan menyambi sebagai pemulung. Sri pun harus mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan empat anaknya seorang diri.

"Setelah saya bayar, jaksanya lain. Perempuan. Ada sekitar sembilan kali pengadilan. Nah, pada 26 Juli sudah putusan, tapi hukumannya tetap berat dan itupun banding," katanya.

http://www.tribunnews.com/2011/08/06/jaksa-ini-tega-terima-uang-rp-2-juta-dari-tukang-becak

Thursday, December 9, 2010

Bandung digoyang gempa 4.1 SR berpusat di darat

Bandung digoyang gempa berkekuatan 4.1 Skala Richter (SR). Tidak seperti biasanya, pusat gempa kali ini berada di darat.

Dari situs resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat gempa berada di kedalaman 10 Km di titik 7.36 Lintang Selatang dan 107.52 Bujur Timur. Atau 50 KM arah Selatan Bandung.

Gempa tersebut terjadi sekitar pukul 18:58 WIB. Goyangan akibat gempa ini bisa dirasakan mengingat kekuatan gempa kali adalah II-III MMI.

Belum ada laporan akibat gempa ini. Skala II-III MMI berarti getaran gempa dirasakan seperti getaran ketika ada mobil besar yang lewat di depan rumah.
artikl terkait :

http://www.detiknews.com/read/2010/12/09/202318/1514869/10/bandung-digoyang-gempa-41-sr

Monday, May 3, 2010

Perampok Tembak Mati 2 PNS,

Dua perampok bersenjata yang beraksi pada Senin pagi menewaskan dua pegawai Unit Pelaksana Teknis Daerah Pendidikan Kesambi, Cirebon, serta membawa kabur uang Rp 600 juta, yang merupakan gaji pegawai yang baru diambil dari bank.

Dua korban tewas tersebut adalah Sutikono (55) dan Rudiman (55). Sutikno tertembak pada dadanya, dan Rudiman tertembak pada empat bagian pada tubuhnya.

Kepala UPTD Kesambi Diknas Kota Cirebon Toto Suprapto, beberapa saat setelah kejadian, mengatakan, biasanya korban mengambil uang gaji tersebut memakai mobil dinas kepala instansi tersebut.”Karena hari ini saya ada pertemuan dinas, maka yang bersangkutan berinisiatif mengambil sendiri dengan naik sepeda motor,” katanya.

Pagi itu, Sutikono dan Rudiman mengambil uang gaji untuk 300 guru se-Kecamatan Kesambi, Cirebon, di Bank Jabar Cabang RS Gunung Jati Cirebon. Menurut keterangan sejumlah orang, tampaknya dua korban dibuntuti dua orang bersepeda motor.

Sekitar 100 meter dari bank Jabar Cabang RS Gunung Jati di Jl Soedarsono, perampok memepet korban dan menembak Sutikno.Karena Sutikno tertembak, Rudiman berusaha menyelamatkan uang dengan memacu sepeda motornya, tetapi ia juga dikejar oleh perampok dan ditembak sampai empat kali.

Kapolwil Cirebon Kombes Tugas Dwi Aprianto di lokasi kejadian mengatakan, pihaknya masih menyelidiki kasus perampokan tersebut. Polisi menemukan slongsong peluru di lokasi kejadian perkara yang diduga dari pistol.


sumber :
http://www.surya.co.id/2010/05/03/rampok-bersenpi-tewaskan-2-orang.html

Wednesday, April 28, 2010

Aduh, Kapolsek Digerebek Sedang Berduaan di Kamar

Nahas menimpa Kepala Polsek (Kapolsek) Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Dia digerebek warga saat sedang berduaan di rumah kontrakan seorang gadis, Senin malam. Lelaki berinisial AKP PO itu digerebek warga saat sedang melakukan perbuatan tak terpuji di kamar gadis tersebut. Akibatnya, Warga yang marah langsung membawa Kapolsek ke markas Koramil (Komando Rayon Militer) setempat.

Komandan Kodim 0612 Tasikmalaya, Letkol Agus Susanto saat dihubungi wartawan, Selasa, membenarkan Koramil Cipatujah mengamankan Kapolsek yang dipergoki warga di rumah kontrakan sedang berduaan di dalam kamar dengan seorang wanita. "Koramil hanya sebatas mengamankan, setelah itu kami serahkan yang bersangkutan ke Polres," kata Agus.

Atas tindakan anak buahnya itu Kepala Polis Resort Kabupaten Tasikmalaya, AKBP Yayat Ruhiyat Hidayat menyatakan permintaan maafnya atas kejadian yang telah dilakukan salah seorang perwiranya.Kata dia, institusi kepolisian Polres Tasikmalaya merasa malu dengan kejadian tersebut, dan berjanji akan menindak tegas oknum Kapolsek tersebut, sesuai dengan peraturan yang berlaku. "Secara institusi saya minta maaf, dan saya siap untuk memrosesnya sesuai dengan aturan yang berlaku," katanya.

Tokoh masyarakat Kecamatan Cipatujah yang tidak ingin dipubilkasikan namanya, kepada wartawan mengatakan, oknum polisi tersebut dipergoki warga saat sedang berduaan bersama seorang gadis berusia 17 tahun.

http://www.tempointeraktif.com/hg/bandung/2010/04/27/brk,20100427-243719,id.html

Saturday, April 17, 2010

Sa'aduddin, Kesederhanaan Seorang Bupati

Sederhana. Itulah prinsip utama Sa'aduddin. Orang nomor satu di Kabupaten Bekasi ini ke mana-mana kerap tampil seadanya. Kedua kakinya sangat jarang berbalut sepatu kulit mengkilat. Ditambah lagi, sikap cueknya terhadap aturan protokoler yang serba formil.

Banyak peristiwa unik dari sikap santai serta jauh dari protokoler yang dilakoni Sa'aduddin. Salah satunya ketika melakukan kunjungan kerja ke salah satu kecamatan. Dia diam-diam duduk di sebuah warung kopi tak jauh dari lokasi acara tujuannya. Dia tersenyum geli saat mendengar obrolan beberapa pengunjung warung kopi itu.

"Mereka bertanya-tanya, kok bupatinya nggak datang-datang ya," ungkap Sa'aduddin saat berbicara dengan detikcom, Kamis (15/4/2010).

Bapak dari 8 anak ini mengaku dirinya tidak anti protokoler yang serba resmi. Dia hanya ingin tidak terlalu formil saat bertemu warganya. Sebab dengan demikian, dia bisa mendengar dan melihat lebih dekat kondisi warganya.

"Kalau kita jauh, warga tentunya ya juga jauh. Ukuran sukses juga tidak dinilai dari harta atau jabatan, tapi bagaimana saya bisa siap melayani dan memberikan yang terbaik bagi warga masyarakat sepanjang jabatan saya ini," ujar Sa'aduddin.

Sejak memimpin Kabupaten Bekasi, penyandang gelar doktor ini telah melakukan berbagai terobosan. Untuk urusan pendidikan, dia menggratiskan biaya pendidikan mulai tingkat SD hingga SMP. Tunjangan bagi kesejahteraan para guru pun tak luput diberikan.
Layanan kesehatan masyarakat pun menjadi perhatiannya. Termasuk di antaranya mengupayakan peningkatan pelayanan rumah sakit di Kabupaten Bekasi dengan meningkatkan kelas plus ketersediaan peralatan.

Demikian pula dengan sektor ekonomi. Sa'adudin tengah gencar melakukan optimalisasi sumber penerimaan serta merevisi beberapa regulasi terkait retribusi daerah. Dia juga menggiring pihak swasta agar terlibat dalam proses pembangunan.

"Keterlibatan pihak swasta dalam pembangunan sangat strategis. Terlebih jumlah pengangguran terbuka di Kabupaten Bekasi mencapai lebih dari 143 ribu orang," tutur Sa'aduddin.

Diakui Sa'aduddin, menarik minat swasta untuk melakukan investasi di wilayahnya bukan perkara sepele. Sebab, para investor butuh kepastian hukum dan iklim yang kondusif. Terutama masalah birokrasi dan perizinan usaha yang berbelit-belit. Untuk itulah, Pemkab Bekasi berniat menerapkan pelayanan perizinan satu atap.

"Ke depan, layanan perizinan ini akan kita tingkatkan statusnya menjadi sebuah badan," terang Sa’duddin.

Di akhir cerita, Sa'aduddin mengaku mempunyai 3 doa utama yang selalu dilafalkan setiap hari. Pertama, dirinya selalu berdoa agar bisa menjalani hidup dengan ikhlas. Kedua, dia berdoa agar dirinya selalu istiqomah. "Yang terakhir adalah bagaimana saya ini nanti dapat meninggal dalam kondisi beriman dan khusnul khotimah," ungkapnya
http://www.detiknews.com/read/2010/04/15/121728/1338843/608/saaduddin-kesederhanaan-seorang-bupati

Friday, April 16, 2010

Korupsi Guru di Bandung Kerugian Ditaksir Mencapai Rp 1,6 M

Akibat korupsi yang dilakukan enam guru di Bandung, negara dirugikan sedikitnya Rp 1,6 miliar rupiah.

"Kerugian ditaksir sekitar Rp 1,6 miliar," kata kuasa hukum terdakwa Erlan Jaya Putra, saat ditemui usai persidangan yang digelar di ruang IV, Pengadilan Negeri Bandung, Jalan RE Martadinata, Kamis (15/4/2010).

Modus yang dilakukan keenam terdakwa adalah dengan dalih membantu memperlicin permohonan kredit ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) meski calon debitur telah mendapatkan kredit di Bank Jabar Banten sebelumnya.

Terdakwa kemudian membantu dengan memberikan syarat-syarat tambahan yang dibebankan pada terdakwa. Calon debitur cukup memberikan foto copy SK yang ada di Bank Jabar-Banten.

Setelah lolos proses pengajuan, terdakwa akan memotong Rp 5 juta sebagai kompensasi administrasi permohonan.Perkara yang terjadi di periode 2004-2005, BRI menggelontorkan kredit sebesar Rp 2.420.900.000 kepada 88 pegawai negeri sipil yang bekerja di lingkungan Dinas Pendidikan Kota Bandung. 54 orang senilai Rp 1.368.400.000 di Desember 2004. Dan sisanya, Rp 1.052.500.000 di Bulan Januari-Februari 2005.

Dari jumlah yang telah digelontorkan, diketahui ada sebagian duit yang berhasil didebit oleh BRI. Namun, kian hari uang yang ada di rekenign debitur habis sehingga tidak bisa membayar cicilan kredit.

"Kreditnya macet. Uang sudah didebit terlebih dulu oleh Bank Jabar," jelasnya. Enam orang guru Sekolah Dasar didakwa melakukan korupsi kredit Bank Rakyat Indonesia (BRI) tahun 2004-2005. Modus yang dilakukannya adalah mencairkan dana kredit dengan menggunakan foto copy Surat Keputusan (SK) milik 80-an guru yang sebelumnya telah melayangkan kredit di Bank Jabar Banten (BJB).

Keenam guru tersebut adalah Mulyati yang bekerja sebagai Bendahara Disdik Kecamatan Kiaracondong, Imas Aisyah Djedje, N. Siti Jenab, Hetty Suhaety, Yeyet Hapysah dan Erna Fahriani yang kesemuanya ditugasi mencari nasabah atau calon debitur yang dikoordinir oleh Mulyati.

Akibat perbuatannya, keenam terdakwa dipidanakan dengan pasal 2 ayat 1, pasal 18 Undang-undang No 31 tahun 1999 tentang Tipikor. Tidak dilakukan penahanan terhadap keenam terdakwa. Status mereka menjadi tahanan kota dengan pertimbangan karena masih mengajar. http://bandung.detik.com/read/2010/04/15/180526/1339227/486/kerugian-ditaksir-mencapai-rp-16-m

Plagiarisme Doktor ITB Lakukan Plagiat, Zuliansyah Minta Maaf dan Siap Bertanggungjawab

Mochammad Zuliansyah, doktor lulusan ITB yang tersandung kasus plagiarisme, mengakui perbuatannya. Zuliansyah menyampaikan permohonan maaf serta bersedia bertanggungjawab sepenuhnya tanpa membawa-bawa ketiga pembimbingnya.

"Saya sangat merasa bersalah, dan saya pribadi akan bertanggung jawab sepenuhnya atas kejadian ini," tulis Zuliansyah dalam surat pernyataan yang dikirimkan kepada detikcom, Jumat (16/4/2010).

Dia mengakui plagiarisme yang dilakukannya murni kesalahan dan keteledorannya sendiri yang tanpa campur tangan dan di luar sepengetahuan ketiga pembimbingnya yakni Prof. Dr. Ir. Suhono Harso Supangkat, M.Eng, DR. Ir. Yoga Priyana, dan DR. Ir. Carmadi Machbub.

"Mohon maaf sebesar-besarnya kepada para pembimbing, STEI, dan seluruh civitas academika ITB beserta ikatan alumni ITB," sesalnya.

"Kejadian tersebut sepenuhnya terjadi akibat keteledoran saya dalam mixing content antara penelitian saya dan referensi, sehingga terjadi pengiriman paper yang sama persis dengan referensi saya," imbuh pria yang akhirnya memilih mengundurkan diri sebagai CPNS dosen ITB setelah kasus ini merebak pada tahun 2008.

Heboh plagiarisme doktor-doktor ITB ini berawal dari situs ieeexplore.ieee.org. Situs tersebut memasang sebuah pengumuman soal pelanggaran prinsip-prinsip publikasi dari IEEE bertajuk "Notice of Violation of IEEE Publication Principles".

Disebutkan makalah plagiat itu berjudul '3D Topological Relations for 3D Spatial Analysis' yang dibuat oleh 4 doktor ITB yaitu Mochammad Zuliansyah, Prof. Dr. Ir. Suhono Harso Supangkat, M.Eng, DR. Ir. Yoga Priyana, dan DR. Ir. Carmadi Machbub.

Makalah ini dipublikasikan dalam Konferensi IEEE tentang ini Cybernetics and Intelligent Systems pada 2008, di Chengdu, China. "Makalah ini hampir seluruhnya menduplikasi makalah lain. Teks asli dikopi tanpa menyebut sumber," demikian keterangan di situs itu.

Makalah asli yang dijiplak adalah 'On 3D Topological Relationships'. Makalah ini dibuat ilmuwan lain yaitu Siyka Zlatanova, dan sudah dipublikasikan dalam 11th International Workshop on Database and Expert System Applications, terbitan tahun 2000 silam. Alias 8 tahun sebelum 4 doktor ITB ini menerbitkan makalahnya.
http://www.detiknews.com/read/2010/04/16/011917/1339359/10/lakukan-plagiat-zuliansyah-minta-maaf-dan-siap-bertanggungjawab?991102605

Thursday, April 8, 2010

Ditipu Markus, Keluarga Kadana Tinggal di Kandang Kambing

Sembulan bulan terakhir, keluarga korban makelar kasus di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, tinggal di kandang kambing. Istri dan enam anak Kadana terpaksa menjual tanah dan rumah demi mengurus perkara pidana yang menimpa Kadana.

Darmi, istri Kadana, mengatakan, hal itu dilakukan ia dan keluarganya dapat berkumpul kembali dengan sang suami. Adapun, Kadana dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Indramayu beberapa waktu lalu.

Darmi mengungkapkan, uang hasil penjualan tanah rumahnya senilai Rp 14 juta diberikan kepada oknum polisi di Polsek Karangampel, oknum penyidik di Polres Indramayu, dan oknum jaksa di Kejari Indramayu. Oknum-oknum penegak hukum itu pun telah berjanji akan membebaskan tersangka. Namun, mereka justru menghilang. Suaminya pun tak kunjung bebas http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/04/08/51367/Ditipu-Markus-Keluarga-Kadana-Tinggal-di-Kandang-Kambing

Tuesday, April 6, 2010

Terima Gratifikasi Rp 2,5 M, Eks Pegawai Pajak Tolak Dakwaan Jaksa

Eks pegawai pajak Edi Setiadi menolak dakwaan jaksa yang menyebut dirinya menerima gratifikasi Rp 2,55 miliar terkait manipulasi pembayaran pajak di Bank Jabar pada tahun 2002 silam. Edi meminta majelis hakim menunda sidang hingga perkara Dirut Bank Jabar dalam kasus serupa diputus. "Belum ada keputusan secara tetap atas Umar Sjarifudin. Kami minta dakwaan dinyatakan batal," papar kuasa hukum Edi Setiadi, Marihot Siahaan dalam sidang pembacaan eksepsi di Pengadilan Tipikor, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Senin (5/4/2010).

Marihot juga meminta majelis hakim menerima dan mengabulkan eksepsi, membatalkan dakwaan,dan menyatakan majelis hakim Tipikor tidak berwenang mengadili. "Dakwaan tidak sinkron sehingga harus dibatalkan demi hukum," katanya.

Dalam dakwaan sebelumnya, Edi diduga menerima hadiah Rp 2,55 miliar sebagai imbalan pengurangan jumlah pajak yang harus dibayarkan Bank Jabar. Uang itu disebut sebagai 'biaya konsultasi' dari Dirut Bank Jabar Umar Sjarifuddin.

Edi yang saat itu menjabat Kepala Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak setuju menurunkan jumlah kewajiban pajak kurang bayar menjadi Rp 7,27 miliar dari jumlah seharusnya Rp 51,80 miliar. Edi ditahan di Rutan Cipinang sejak 20 Januari 2010.

sumber:
http://www.detiknews.com/read/2010/04/06/001006/1332635/10/terima-gratifikasi-rp-25-m-eks-pegawai-pajak-tolak-dakwaan-jaksa

Tuesday, March 30, 2010

Korupsi Rp 28,9 Miliar, Mantan Dirut Bank Jabar Dituntut 6 Tahun

Mantan Direktur Utama Bank Jabar, Umar Syariffuddin, dituntut enam tahun penjara dalam kasus dugaan korupsi setoran modal dan suap pengurangan pajak di Bank Jabar. "Meminta majelis hakim menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi," kata jaksa penuntut umum, Rudi Margono, saat membacakan tuntutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (29/3/2010).

Tim jaksa juga menuntut denda Rp 200 juta subsider enam bulan kurungan dan uang pengganti Rp 19,8 miliar. Pertimbangannya, Umar selaku Dirut PT Bank Jabar telah menyetujui pengumpulan setoran modal dari kantor-kantor cabang Bank Jabar.

Pungutan itu disetujui bersama Uce Karna Suganda selaku Direktur Operasional Bank Jabar dan Abbas Suhari Sumantri yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pemasaran Bank Jabar. Dalam kurun waktu 2002 hingga 2005, dana setoran itu mencapai Rp 51,2 miliar. Tim penuntut umum menyatakan, Umar menggunakan Rp 28,9 miliar dari dana setoran itu untuk kepentingan pribadi.

Sedangkan sebesar Rp 2,550 miliar digunakan untuk menyuap pemeriksa pajak agar memanipulasi kewajiban pajak Bank Jabar. Tim penuntut umum juga menyatakan Uce dan Abas turut menikmati dana setoran tersebut.

Uce menerima uang Rp 7,13 miliar, sedangkan Abas menerima Rp 5,4 miliar. Uang Rp 441,5 juta juga mengalir kepada beberapa anggota DPRD Provinsi Jawa Barat. Atas perbuatannya, Umar dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Rencananya, Umar dan tim penasihat hukumnya akan mengajukan pembelaan pada sidang berikutnya.

http://regional.kompas.com/read/2010/03/29/19062838/Korupsi.Rp.28.9.Miliar..Mantan.Dirut.Bank.Jabar.Dituntut.6.Tahun

Sunday, March 28, 2010

Kisah Sopir Pengantar Mayat Menolong Korban Celaka Malah Ditangkap Polisi

Menjadi sopir mobil ambulans adalah tugas kemanusiaan yang berat. Nyawa seseorang yang sedang kritis berada di tangan mereka. Namun sayang, tugas mereka kurang dihargai pihak lain.
Endang, sopir mobil jenazah RS PMI Bogor, berbagi pengalamannya. Menurut Endang, sopir ambulans sangat bertanggung jawab dalam pekerjaannya. Mereka sadar betul tugas kemanusiaan yang diembannya. Dalam bekerja mereka tidak pandang bulu. Siapapun harus mereka tolong. Bahkan di saat mereka sedang bebas tugas. "Kalau kita tidak membantu, kita malu dengan logo palang merah di mobil kita. Kalau kita sedang pulang sehabis mengantar jenazah, lalu ada kecelakaan dengan korban luka atau tewas di tempat, kami langsung turun tangan," ujar Endang dalam perbincangan di RS PMI, Bogor, Kamis (25/3/2010). Sayangnya, beberapa kali mereka tidak mendapat pengalaman mengenakkan. Ibarat peribahasa, air susu dibalas air tuba. Niat menolong malah berbuah masalah untuk mereka.

Endang dan temannya Oman Abdurrahman mengisahkan, mereka pernah pulang dari mengantar jenazah ke Yogyakarta pada Agustus 2002. Di Bumiayu, Jawa Tengah, mereka berpapasan dengan truk semen yang oleng karena rem blong. Endang banting setir dan bisa menghindar. Ambulans hanya terserempet, sementara truk semen melaju terus ke arah kerumunan warga di pinggir jalan. Kecelakaan pun tidak terhindarkan. Truk menabrak warga lalu terguling di sebuah kebun. "Saya melihat paling tidak ada 3 orang yang terseret di kolong mobil. Sementara sopir dan keneknya juga luka-luka parah," tutur Endang.

Endang dan Oman langsung terpanggil menolong mereka. Ambulans yang rusak tidak mereka pikirkan lagi. Yang penting, para korban harus selamat. Tiga korban luka langsung dilarikan ke sebuah rumah sakit di Purwokerto. Namun saat hendak meninggalkan rumah sakit, mereka malah ditahan polisi. Mereka disangka bersalah dalam kecelakaan itu."Saya lupa mereka dari polisi mana. Yang saya ingat mereka adalah petugas Polsek setempat," ujar Oman sambil berusaha mengingat-ingat kejadian naas itu.

Oman dan Endang berusaha menjelaskan panjang lebar. Untung para saksi membela mereka. Oman dan Endang boleh pulang, namun ambulans mereka ditahan dengan alasan keperluan penyelidikan. Mereka pun pulang ke Bogor dengan kereta api dan ongkos sendiri.

Tiga hari kemudian, berbekal surat dari RS PMI Bogor, mereka ke Bumiayu untuk mengambil ambulans. Namun, masih ada masalah. Oknum polisi meminta uang pelicin dengan dalih biaya penitipan. "Mereka bahkan meledek, uang dari kami kurang banyak," ungkap Endang.

Pengalaman pahit juga dialami Ujang, juga sopir mobil jenazah RS PMI Bogor. Dia pada 1996, mengantar korban tewas karena kecelakaan kerja dalam proyek di pabrik Semen Cibinong. Korban diantar ke pelosok Sleman, Yogyakarta. Mobil jenazah tiba di rumah duka pukul 04.00 WIB dini hari. Keluarga korban langsung kaget dan histeris.

Namun apa yang terjadi? Mereka menyalahkan Ujang dan rekannya. Mereka tidak percaya korban tewas dalam kecelakaan kerja. Repotnya lagi, saat itu belum ada ponsel. Bahkan rumah korban pun belum dipasang telepon rumah. Surat dari RS PMI Bogor yang dibawa Ujang tidak digubris oleh keluarga korban. Ujang ditahan, tidak boleh pulang. "Akhirnya jam 09.00 WIB pagi, datang telegram dan juga pihak kontraktor. Baru deh mereka percaya. Saya baru boleh pulang ke Bogor," kata Ujang.

Pengalaman pahit ini ternyata dianggap hal yang lumrah oleh para sopir mobil jenazah. Belum lagi pengalaman mistis yang kadang mereka alami saat mengantar jenazah. Mereka sadar, menjadi petugas pelayanan masyarakat terkadang tidak selalu berbuah manis. Namun ada tanggung jawab kemanusiaan yang tinggi di balik itu. Niat mulia itulah yang mereka genggam dalam menjalankan tugas keseharian mereka, mengantar orang luka sampai orang meninggal.
http://www.detiknews.com/read/2010/03/26/161101/1326249/159/menolong-korban-celaka-malah-ditangkap-polisi

Kisah Sopir Pengantar Mayat Keranda Mayat Itu Tiba-tiba Bergoyang

Ridwan sendirian membelah malam dengan mobil ambulansnya. Dia harus mengantar jenazah korban kecelakaan dari Rumah Sakit PMI Bogor, menuju Jasinga, daerah perbatasan Bogor dan Banten. Sirine ambulansnya meraung sepanjang malam sampai tiba di rumah duka pukul 23.00 WIB.

Jenazah usai diantar, Ridwan pun kembali ke Bogor. Namun, baru jalan sekitar 5 km dari rumah duka, terjadi kegaduhan di bagian belakang mobil. Ridwan berpikir, keranda besi untuk membawa jenazah lepas dari posisinya dan menghantam badan mobil karena mobil terguncang. Saat ambulans melintas di aspal yang mulus, keranda besi itu tetap bergoyang-goyang.

Ridwan pun melongok ke bagian belakang ambulans. Dia melihat keranda mayat itu bergoyang-goyang sendiri. Tidak hanya itu, lampu di dalam mobil ambulans pun tiba-tiba padam. Ridwan takut bukan kepalang. Ambulans dipacu sekencang-kencangnya dengan sirine meraung-raung. Ridwan tiba di rumah sakit dengan wajah pucat. Besoknya dia langsung mengundurkan diri dari pekerjaan yang baru dua minggu digelutinya. "Saya nggak kuat, Kang. Saya berhenti kerja saja. Gaji saya yang dua minggu buat
Akang saja," kata Ridwan saat itu.

Pengalaman Ridwan pada 1995 ini, dituturkan oleh Oman Abdurahman (53), teman kerjanya. Dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (25/3/2010), Oman mengatakan pengalaman yang membetot nyali itu adalah bagian dari ujian sopir ambulans pengantar
jenazah.

Oman sudah 16 tahun memegang kemudi ambulans pengantar jenazah. Palang hitam, begitu julukan sebagian orang. Menurut Oman, pengalaman seram memang menjadi bagian dari pekerjaan para sopir ambulans jenazah. Apalagi mobil ambulans model lama tidak memisahkan ruang kemudi dan ruang jenazah."Dulu mobilnya Kijang kotak, tidak ada pembatas sopir dan jenazah. Pendinginnya juga kipas angin. Coba bayangkan," kata Oman.

Namun menurut Oman, lama kelamaan para sopir mobil jenazah sudah kebal. Keranda mayat bergoyang sendiri, lampu mobil tiba-tiba byar pet, dan suara rintihan. Semua pernah dialami para sopir mobil jenazah. Namun selama belasan tahun bekerja, mereka tidak pernah sampai melihat mahluk gaib. Sebenarnya, apa sih yang membuat mereka bertahan menjadi sopir mobil jenazah?"Kami bekerja dengan niat baik. Ini adalah tugas penting mengantarkan jenazah ke rumah duka. Mungkin mahluk halus juga tahu, jadi tidak pernah sampai mengganggu kita," tutur Endang, teman Oman, sambil tertawa terbahak-bahak.

Banyak orang yang memang menganggap peristiwa mistis itu tidak masuk akal. Namun bagi Oman dan Endang, hal semacam itu mereka jumpai sehari-hari, bahkan sudah dianggap biasa oleh mereka. Perbaikan sistem kerja pun lebih dikarenakan kebutuhan yang logis, bukan karena hal-hal gaib itu. Misalnya saja sistem sopir ganda untuk jenazah yang harus dikirim jauh sampai ke luar Jawa Barat bahkan Sumatera. Tujuannya bukan karena sopir suka diganggu mahluk halus, melainkan memang butuh dua sopir untuk membawa mobil bergantian jika yang satu kelelahan. "Belum lama ini pas bedug Magrib, mobil ambulans yang lagi parkir, lampunya nyala
sendiri. Padahal mobil dikunci, dan pas dicek nggak ada kabel korslet," pungkas Oman menunjuk mobil ambulans Mitsubishi L 300 di parkiran depan kamar jenazah.

http://www.detiknews.com/read/2010/03/26/152342/1326203/159/keranda-mayat-itu-tiba-tiba-bergoyang

Kisah Penjaga Kamar Mayat Sebuah Rintihan di Kamar Mayat


Sebuah rintihan memecah kesunyian malam di sebuah kamar mayat. Mang Uu, sang penjaga kamar mayat melompat bangun dari tidurnya. Dia berkeliling ruangan, namun sumber suara tidak ditemukan.

Itulah pengalaman pertama Uu saat baru seminggu bertugas menjaga ruang jenazah Rumah Sakit PMI Bogor, puluhan tahun lalu. Pria yang kini berusia 59 tahun ini, kini sudah tidak takut lagi menjalani tugasnya dengan profesional."Awal-awalnya takut. Tapi sekarang sudah biasa," kata Uu dalam perbincangan dengan
detikcom, Kamis (25/3/2010).

Sebelum menjadi penjaga kamar jenazah, Uu menjadi tukang parkir di rumah sakit tersebut. Namun karena Uu sering membantu petugas kamar mayat dalam proses penguburan mayat tak dikenal, akhirnya Uu diperbantukan ke kamar jenazah. Akhirnya, 10 tahun lalu, Uu diminta bekerja sepenuhnya di kamar jenazah sekaligus mengurus
kebersihannya.

Banyak pengalaman yang Uu dapatkan sebagai penjaga kamar jenazah. Uu harus tahan dengan berbagai kondisi mengenaskan pada jenazah, misalnya korban kecelakaan atau pembunuhan. Ada juga memang pengalaman seram seperti mendengar suara tangisan, rintihan, dan langkah-langkah kaki. Namun belum sekalipun dia melihat penampakan sosok gaib di kamar mayat. "Kalau cuma suara saja sih sering. Hampir setiap malam. Tapi sekarang saya mah
sudah biasa, sudah nggak takut lagi," ujar Uu.

Namun, Uu juga mengingatkan kalau masyarakat kerap hanya mengaitkan kamar jenazah dengan citra yang buruk dan seram-seram saja. Padahal menurut Uu, menjaga mayat juga adalah tugas kemanusiaan yang penting. Seorang penjaga kamar mayat harus bisa memastikan setiap jenazah yang datang bisa dijaga dengan baik segala kondisinya sampai pihak keluarga mengambilnya. Tidak jarang seorang penjaga kamar jenazah juga harus membantu menghibur keluarga yang berduka cita.

Tugas Uu mendadak menjadi ringan, karena sejak 8 bulan lalu, ruang pendingin untuk 12 jenazah di RS PMI Bogor rusak. Jenazah-jenazah korban kecelakaan, pembunuhan atau meninggal biasa di rumah sakit, tidak bisa berlama-lama di kamar jenazah RS PMI Bogor. Jenazah yang dibawa hanya yang sudah ditunggui keluarga. Jenazah yang belum ada keluarganya akan dibawa ke RSCM atau RS Polri Kramat Jati. Kalau tidak begitu, dikhawatirkan jenazah bisa membusuk karena tidak didinginkan. "Kalau ada keluarga, jenazah itu kan tidak lama-lama di ruangan ini. Paling hanya satu hari langsung dibawa pulang. Kalau yang tidak ada keluarganya, bisa berhari-hari nanti dan akan membusuk di sini karena tidak ada pendinginnya," jelas Uu.

Uu menjalani pekerjaanya dengan penuh dedikasi dan ucap syukur. Uu tahu, pekerjaannya bahkan cenderung tidak dilirik masyarakat umum. Siapa sih yang mau bekerja menunggui jenazah. Namun, bagi pria kelahiran Bogor tersebut, bekerja di kamar jenazah memberikan penghasilan yang lebih baik dibanding saat ia masih menjadi tukang parkir. Uu tidak menjelaskan berapa gajinya. Namun dia mengaku penghasilannya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, walaupun rumahnya masih mengontrak. "Kami tetap bersyukur. Sebab keluarga saya masih bisa makan dan anak-anak bisa sekolah. Apalagi anak-anak saya sekarang sudah bekerja semua," pungkasnya.
http://www.detiknews.com/read/2010/03/25/170120/1325506/159/sebuah-rintihan-di-kamar-mayat

Tuesday, March 9, 2010

Baku Tembak Teroris di Pamulang, Satu Tewas

Baku tembak antara aparat kepolisian dan kelompok yang diduga teroris kembali terjadi di sebuah ruko Siliwangi di Jalan Beringin, dekat kedai Multi Plus Puri Pamulang, Pamulang Square, Kelurahan Benda, Pamulang Barat, Jakarta. “Mati satu,” kata sumber Persda Network di Jakarta, Selasa (9/3/2010) siang. Namun, belum jelas dari pihak mana satu korban tewas tersebut. Kelompok teroris tersebut diketahui bersenjata lengkap.
Saat berita ini diturunkan, korban tewas sudah dimasukkan ke dalam mobil ambulans. Namun, belum diperoleh keterangan lanjutan mengenai penyergapan ini. Disebutkan pula, dua orang ditangkap hidup-hidup dalam operasi ini. Sementara pengepungan di lokasi sampai saat ini masih terjadi.
http://www.surya.co.id/2010/03/09/baku-tembak-teroris-di-pamulang-satu-tewas.html

Monday, March 8, 2010

4 Orang Tewas Setelah Pesta Miras Korban Rayakan Pernikahan Anaknya


Pesta miras merenggut nyawa empat warga Jalan Babakan Sari III, Kelurahan Babakan Sari, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, Minggu (7/3/2010). Mereka tewas setelah menenggak puluhan botol miras yakni vodka dan PSOP yang dioplos dengan minuman berenergi selama tiga hari berturut-turut.

Empat pria itu ialah Iwan (35), Anas (40), Sudarmadi (36) dan Bagio alias Ayo (34). Tiga jenazah sudah dimakamkan siang tadi di TPU Cibangkong. Sementara Sudarmadi dipastikan Senin (8/3/2010) pagi akan dikebumikan, karena dirinya meninggal di RS Pindad sekitar pukul 17.00 WIB dan jenazahnya baru selesai dimadikan sekitar pukul 21.00 WIB.

Menurut tokoh masyarakat setempat, Untung S (48), sekitar duapuluhan warga memulai pesta miras berujung maut itu sejak Jumat (5/3/2010) pagi. Bahkan, sebelum ajal menjemput, keempat korban terus melanjutkan menenggak alkohol secara berlebihan hingga Minggu dini hari tadi. "Mereka pesta miras untuk merayakan pernikahan anaknya Anas. Ada yang minumnya ramai-ramai di sekitar gang, juga ada yang di rumah. Yang saya tahu, mereka minum puluhan Vodka dan PSOP," ujar Untung kepada wartawan di rumahnya.

Ia menambahkan, Iwan dan Anas akhirnya meninggal di rumah masing-masing. Sementara Sudarmadi dan Bagio yang merupakan kakak beradik ini meninggal di rumah sakit berbeda. "Semua meninggal hari ini. Saya hanya sempat melihat Iwan muntah darah dan akhirnya pagi tadi meninggal," ujar Untung yang menghadiri pemakaman tiga korban tersebut.

Sementara itu, warga yang sempat ikut mencicipi, Asep Rahmat (33) mengatakan, pesta miras itu memang dilakukan tiga hari berturut-turut sejak Jumat lalu. Beruntung, Asep tidak senasib rekan-rekannya itu. "Kalau saya diajak minum pada Sabtu pagi. Itupun hanya segelas. Tapi sampai sekarang kepala masih puyeng dan penglihatan terasa remang-remang," jelas Asep yang sudah menghabiskan lima kelapa muda yang diminum airnya untuk menetralisir tubuh. "Kalau yang bareng saya itu ada tujuh orang, termasuk Sudarmadi dan Bagio. Kira-kira habis enam botol vodka yang dioplos Kratingdaeng," ungkap Asep.

Kasus tersebut saat ini ditangani Polresta Bandung Tengah. Upaya penyelidikan masih terus dilakukan. "Dugaan kuat, penyebab mereka meninggal karena menenggak miras secara berlebihan dan keracunan. Sejumlah orang yang selamat akan dimintai keterangan," terang Kasatreskrim Polresta Bandung Tengah AKP Zulkarnain Harahap.http://bandung.detik.com/read/2010/03/07/233656/1313211/486/korban-rayakan-pernikahan-anaknya

Friday, March 5, 2010

Balita Tewas Diduga Dianiaya Ayah Tiri Ade Baru 4 Bulan Menikahi Ibu Kandung Ilham

Kapolsek Bandung Kulon AKP Apong Warsun mengungkapkan ayah tiri Moch Ilham (2) yaitu Ade Ahmad (42) belum lama menikahi Rodiyah (32). Keterangan saksi yang sudah diperiksa, semua mengarah kepada Ade yang diduga menganiaya Ilham hingga menyebabkan meninggal.

"Ibu kandung Ilham, Rodiyah, baru dinikahi Ade selama empat bulan," jelas Apong saat dihubungi melalui ponselnya, Rabu (3/3/2010).

Menurut Apong, pihaknya terpaksa membongkar makam Makam Moch Ilham (2) di Kampung Cipeuteuy, Desa Mekarsari, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. Ini dilakukan setelah pihak keluarga melapor ke polisi terkait menemukan kejanggalan atas meninggalnya Ilham.

"Keluarga menduga Ilham meninggal akibat dianiaya ayah tirinya. Maka itu, untuk memastikannya, kami sedang melakukan pembongkaran makan Ilham hari ini," ujar Apong.

Apong menambahkan, pihaknya sudah memeriksa 11 saksi dalam kasus tersebut. Dari keterangan saksi dari keluarga dan tetangga itu mengarah ke Ade.

Terungkapnya kasus ini setelah ayah kandung Ilham yaitu Iwan Setiawan (29) melihat kejanggalan di tubuh anaknya. Dia menemukan luka lebam di bagian punggung dan perut saat memandikan jenazah Ilham. Selain itu terdapat bekas seperti sundutan rokok di bagian pipi dan dahi. Iwan pun melaporkan temuannya itu ke Polsek Bandung Kulon pada Minggu (28/2/2010) sore.

Keluarga awalnya mengira Ilham meninggal karena sakit. Ilham tinggal di Cibuntu Haur Koneng, RT 2 RW 6, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung. Balita tersebut meninggal pada Jumat (26/2/2010). Jenazah Ilham dimakamkan di Garut pada Minggu (28/2/2010). http://bandung.detik.com/read/2010/03/03/115920/1310129/486/ade-baru-4-bulan-menikahi-ibu-kandung-ilham

Culik & Paksa Pemuda Ngaku Jadi Bandar Narkoba, 3 Polisi Ditangkap

3 Anggota polisi Polda Jabar diamankan setelah menculik dan mencoba memeras seorang pemuda bernama Muhammad Randi alias Bandot (18). Randi dipaksa untuk mengaku sebagai bandar narkoba, padahal ia tidak melakukannya.

"Telah dilakukan penangkapan 3 tersangka penculikan dan pemerasan terhadap korban bernama Muhammad Randi Sani alias bandot," ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Boy Rafli Amar kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jl Jendral Sudirman, Jakarta, Jumat (5/3/2010).

3 polisi itu berasal dari satuan narkoba Polda Jabar. Mereka yakni Bripka HS, Bripka EN, Brigadir RA.

Boy menjelaskan, 3 polisi itu melakukan penyekapan dan rencana pemerasan pada 22 Februari 2010 lalu. Mulanya, mereka berkomunikasi dengan korban melalui chatting di internet. Setelah itu, mereka pun menjebak korban dengan mengajaknya bertemu.

"Awalnya si korban dipancing melalui chatting untuk melakukan transaksi narkoba, korban dituduh sebagai bandar narkoba," terang Boy. Korban lalu diajak bertemu di McDonald, Lokasari Mangga Besar, Jakarta Barat.

Karena Bandot tidak kunjung pulang ke rumahnya hari itu, keluarganya pun resah. Mereka lalu melapor ke Polda Metro Jaya.

Polisi lalu bergerak menelusuri jejak hilangnya Bandot. Pada 23 Februari, ketiga oknum polisi bersama korban ditangkap di Bandung. Selama diculik, Bandot dikurung di dalam mobil dan tidak dibolehkan keluar.

"Pemerasannya belum terjadi. Selama itu (diculik), korban diletakkan di dalam mobil, selama dua hari di Bandung tidak keluar mobil," katanya.

Polisi kini menyita satu unit Sedan Timor warna kuning dan Toyota Avanza bernomor polisi D1704DL warna silver. Pelaku pun diancam dikenakan pasal 328 KUHP, tentang penyekapan junto pasal 378 KUHP tentang pemerasan. Ketiga polisi nakal itu telah dibawa ke Bandung untuk diperiksa oleh Propam Jabar untuk diproses lebih lanjut. http://www.detiknews.com/read/2010/03/05/155418/1312177/10/culik-paksa-pemuda-ngaku-jadi-bandar-narkoba-3-polisi-ditangkap

Dipaksa Jadi Pelacur di Bogor, Mau Terjun Dari Menara PLN

BOGOR - - Tidak terima dijadikan pelacur, seorang wanita berusia 30 nekat memanjat tower milik PLN dan nyaris mau bunuh diri. Namun berkat kesigapan Wakasat Samapta Polresta Bogor, akhirnya wanita berusia 30 tahun itu berhasil diselamatkat.

Peristiwa itu terjadi Jumat pagi pukul 09.00 hingga pukul 13.20 di tower PLN di Kampung Sawah, Tegal Gundil, Kota Bor atau tepatnya di Flyover Tol Jagorawi pintur keluar Baranansiang.

Menurut Endang, pemilik kios tepat di bawah tower itu, sekitar pukul 09.00 tadi pagi, wanita tersebut membeli tisu dan minuman segar dari kiosnya. Wanita yang mengenakan baju warna pink dan celana jeans tersebut mengaku kabur dari Batam. Ia dibawa ke Bogor oleh seseorang dengan janji akan diberikan pekerjaan.

Namun, sesampai di Bogor, wanita berambut sebahu ini justru mau dijadikan jadi pelacur sehingga dia kabur. Rupanya karena depresi dan tak lama kemudian, tiba-tiba naik ke menara PLN tersebut.

Tentu saja kejadian itu jadi tontonan warga karena si wanita tadi nekat mau bunuh diri. Tak lama kemudian aparat kepolisia tiba di lokasi dan membujuk si wanita itu turun. Namun tidak digubris sampai akhirnya polisi mendatangkan mobil pemadam kebakaran berbelalai panjang.

Setelah dibujuk oleh AKP Arif, akhirnya si wanita tersebut mau turun. Ia segera dilarikan ke Polsek Bogor untuk dimintai keterangan. Belum diketahui identitasnya.http://www.surya.co.id/2010/03/05/dipaksa-jadi-pelacur-di-bogor-mau-terjun-dari-menara-pln.html