Tuesday, November 30, 2010

penjual balon keliling digrebeg di rumah istri orang

Sarnawi (34), penjual balon keliling ini nyaris saja jadi bulan-bulanan massa, setelah kepergok berduaan dalam rumah dengan seorang wanita yang sudah mempunyai suami.

Penggerebekan menjadi sulit dan menegangkan, karena Sarnawi warga Desa Sukorejo, Kecamatan Gondanglegi menolak menyerah dan melawan warga dengan mengacungkan pancor yang dibawanya.

“Nggak mudah menangkapnya. Sebab, dia bawa sajam,” kata AKP Badriyah, Kapolsek Gondanglegi, Senin (29/11).

Kejadian yang menggegerkan warga Desa Bulupitu, Kecamatan Gondanglegi ini berlangsung Senin dini hari sekitar pukul 02.00 WIB, atau selang dua jam setelah Sarnawi berada di dalam rumah Hnf, 29, warga Desa Bulupitu.

Kedatangan Sarnawi ke rumah Hnf pertama kali diketahui oleh Samsul yang tak lain adalah adik ipar Hnf. Samsul langsung curiga, karena ia tahu suami Hnf tidak berada di rumah. Yakin kedua insan berlainan jenis yang bukan suami istri itu berbuat senonoh, Samsul menghubungi warga yang langsung mengepung rumah Hnf dan meringkus Sarnawi.

Kepada petugas, Sarnawi mengaku sudah dua kali ini datang dengan diam-diam ke rumah Hnf. Sarnawi mengaku memang punya hubungan khusus dengan Hnf dan sama sama saling suka. “Dia (Hnf) itu sudah pisah ranjang dengan suaminya. Namun dia belum dapat surat saja (surat cerai),” tutur Sarnawi tanpa dosa.

http://www.surya.co.id/2010/11/30/digerebek-di-rumah-istri-orang.html

Polrestabes Surabaya Ringkus Germo Gigolo

Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya meringkus pelaku eksploitasi anak yang menjual anak-anak untuk dijadikan korban prostitusi.

“Sebelumnya, kami juga menangkap pelaku eksplotasi anak, tapi korban kali ini adalah laki-laki. Korbannya masih duduk di SMP yakni MIT (15) dari Jalan Kalianak Timur, Surabaya,” ujar Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Wiwik Setyaningsih, Selasa (30/11/2010).

Sementara itu, pelakunya berinisial MLS (27) yang sehari-hari bekerja sebagai sopir truk yang tinggal di kawasan Jalan Karang Tembok, Surabaya. “Pelaku baru bekerja dua minggu lalu dengan modus operandi menawarkan jasa layanan ‘plus-plus’ di sebuah koran harian lokal Surabaya,” ungkap Wiwik.

Dalam iklan tersebut, dituliskan jika ada perempuan yang membutuhkan layanan bisa menghubunginya melalui nomor telepon yang dipampangnya. Selanjutnya, kata Wiwik, seorang perempuan mengaku bernama Vera mencoba menghubunginya dan meminta mencarikan laki-laki berusia sekitar 15 tahunan.

Tersangka MLS yang memang mempunyai “stok” langsung tidak keberatan dan mengabulkan tawaran Vera hingga keduanya melakukan perjanjian di sebuah hotel di kawasan Jalan Raya Ngagel.

“Di situlah tersangka MLS dan korbannya, MIT, dibawa ke kantor polisi untuk dilakukan pemeriksaan oleh penyidik. Setelah terbukti, tersangka dijebloskan ke tahanan,” papar mantan Kabag Bina Mitra Polres Surabaya Utara tersebut.

Kepada penyidik, MLS mengaku baru sekali ini menjalankan bisnis prostitusinya. “Saya dapat Rp 700 ribu, sedang sisanya sebesar Rp 1 juta, merupakan upah dari MIT. Tapi belum sampai menikmati uang, saya sudah ditangkap,” ucapnya.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 2 Juncto 17 Undang-Undang RI Nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan atau Pasal 88 Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

http://www.surya.co.id/2010/11/30/germo-gigolo-abg-diringkus-polisi-surabaya.html

Tentara tewas telanjang di kamar hotel

Seorang anggota TNI AL ditemukan tewas dalam kondisi telanjang di sebuah kamar hotel melati yang berlokasi di Jalan Kali Baru III, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (30/11/2010) dini hari.

“Korban bernama Hadi Darmawan (40), warga Medan Satria, Bekasi, berprofesi sebagai anggota Polisi Militer TNI AL berpangkat Letnan Satu,” kata Kapolres Jakarta Pusat, Komisaris Besar Hamidin kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Selasa.

Hamidin mengatakan, dari hasil olah TKP (tempat kejadian perkara) yang dilakukan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban. “Dugaan awal, korban tewas setelah melakukan hubungan badan dengan seorang wanita yang identitasnya belum diketahui,” kata Hamidin

Berdasarkan keterangan dari pihak hotel yang diterima polisi, wanita yang menemani korban telah meninggalkan lokasi sejak tengah malam. Awalnya, korban datang dengan seorang wanita. Namun, teman wanitanya kemudian pulang tengah malam.

Kepada petugas hotel, korban minta dibangunkan sekitar pukul 02.00 WIB. Karena tak juga bangun, room boy kemudian membuka pintu kamar dan menemukan korban telah meninggal dunia.

“Di lokasi kejadian, kami menemukan sejumlah kaleng minuman bekas minuman beralkohol dan kondom berisi sperma,” ujarnya.

Hingga kini petugas Polrestro Jakarta Pusat dan Polsektro Senen masih menyelidiki penyebab pasti kematian korban. “Jenazah korban sudah dibawa ke RSCM. Kami masih menunggu hasil visum dan rekam medik untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban, apakah karena sakit atau mengonsumsi obat kuat,” ujarnya.

http://www.surya.co.id/2010/11/30/anggota-tni-tewas-telanjang-di-hotel.html

Merapi kembali mengeluarkan awan panas,

Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (30/11/2010) siang kembali mengeluarkan awan panas, setelah beberapa hari terakhir tidak lagi mengeluarkan awan panas pascaerupsi besar 5 November. Awan panas yang muncul beberapakali tersebut mulai terlihat dari Dusun Ngipiksari, Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman sekitar pukul 10.45 WIB dan terus keluar sampai beberapakali yang mengarah ke timur atau Sungai Woro di Klaten, Jawa Tengah.

Warga Dusun Ngipiksari, Purwanto yang sudah tiga hari ini pulang ke rumah dari pengungsian mengatakan, luncuran awan panas tersebut cukup besar setelah beberapa waktu Gunung Merapi terlihat diam.

“Secara visual luncuran awan panas Merapi ini hanya dapat dilihat beberapa menit saja karena setelah itu Gunung Merapi kembali tertutup kabut, karena puncak Merapi juga tengah turun hujan deras dan hanya suara gemuruh yang terdengar,” paparnya.

Sejumlah petugas dan relawan dari tim SAR yang berada di Posko Pakem langsung bergerak menyebar memantau kondisi sungai yang berhulu ke Merapi, setelah sebelumnya dari sinyal “handy talky” (HT) yang diterima terdengar kondisi Merapi fluktuatif.

“Informasi yang kami terima dari petugas jaga di atas itu memang awan panas yang campur dengan banjir,” kata salah satu petugas di Posko Pakem.


http://www.surya.co.id/2010/11/30/gunung-merapi-kembali-keluarkan-awan-panas.html

pulang dari perang Irak: 20 % tentara Amerika sakit jiwa

Sebuah laporan militer Amerika Serikat menyebutkan bahwa 20 persen prajuritnya yang kembali dari perang Irak menderita gejala penyakit mental. Demikian dilansir Islammemo.cc, Minggu (28/11).

Laporan yang sudah dipublikasikan pada akhir Juli tersebut juga mengatakan bahwa tingkat bunuh diri dalam tubuh militer AS telah melebihi tingkat bunuh diri di masyarakat sipil untuk pertama kalinya sejak Perang Vietnam.

Laporan itu mengungkapkan bahwa selama awal bulan Oktober 2008 sampai 30 September 2009, sebanyak 160 prajurit AS telah bunuh diri.

Nasib yang sama dengan prajurit AS juga dialami prajurit Prancis yang pulang dari perang di Afghanistan. Mereka juga mengalami gangguan mental.

Marchand, Kepala Bagian Perawatan Psikologi Pasukan Darat Prancis mengatakan bahwa prajurit Prancis di Afghanistan menghadapi kekerasan setiap hari. Situasi seperti inilah yang berdampak besar terhadap psikologi mereka.

Menurut Marchand, keadaan alam Afghanistan yang keras, seperti pegunungan yang memiliki cuaca panas ataupun dingin, juga mempengaruhi psikologis para prajurit.

http://www.surya.co.id/2010/11/29/20-prajurit-as-menderita-gangguan-jiwa.html

ICG: 9 tahun perang NATO gagal menaklukkan Taliban

Setelah sembilan tahun pasukan NATO yang dipimpin Amerika Serikat menyerbu Afghanistan, International Crisis Group menilai mereka gagal menaklukkan Taliban.

“Taliban semakin aktif dari sebelumnya dan mereka masih menikmati perlindungan dan dukungan di Pakistan. ” Demikian bunyi sebuah laporan ICG, seperti dikutip PressTV (28/11).

Menurut organisasi yang dianggap sebagai wadah para pemikir yang berbasis di Brusel tersebut, strategi yang dilakukan oleh pasukan koalisi untuk mendapatkan dukungan dari warga sipil, merayu para pemberontak yang kecewa dan meningkatkan kekuatan pasukan keamanan Afghanistan juga gagal.

ICG juga mencela upaya NATO baru-baru ini untuk berdialog dengan Taliban.

Menurutnya, rencana itu hanya akan memicu persaingan antarkelompok perlawanan di Afghanistan dan meningkatkan rasa tidak aman di kalangan orang kebanyakan.

Laporan ICG itu dikeluarkan setelah Presiden Afghanistan Hamid Karzai belum lama ini membentuk sebuah dewan perdamaian guna berdialog dengan kelompok-kelompok masyarakat yang kecewa dan kelompok perlawanan Afghanistan yang terlibat perang dengan pemerintah –dan tentunya perang dengan tentara NATO pimpinan AS.

Dewan tersebut dibentuk setelah para pejabat senior Inggris mengajukan ide berdamai dengan Taliban, kelompok yang menjadi target utama invasi AS dan sekutunya ke Afghanistan.

Sebagaimana dimaklumi, Amerika Serikat beralasan invasi tersebut merupakan perang untuk melawan teror dan mewujudkan perdamaian di Afghanistan. Namun kenyataannya, setelah sembilan tahun berlalu keadaan semain memburuk. Perang justru memakan korban rakyat sipil dengan jumlah yang terus meningkat.

Angka korban sipil naik sepertiga dalam enam bulan pertama tahun 2010 sebanyak 1.271.

Sementara 600 anggota pasukan sekutu yang dipimpin AS tewas sepanjang tahun 2010 ini. Jumlah tersebut merupakan angka kematian tahunan pasukan sekutu tertinggi sejak awal perang tahun 2001.

http://www.surya.co.id/2010/11/29/icg-nato-gagal-di-afghanistan.html

Ratusan murid SD Tasikmalaya belajar digubuk sejak gempa September 2009

Ratusan murid Sekolah Dasar (SD) Budiwangi, Desa Cisempur, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, terpaksa belajar digubuk sejak peristiwa gempa bumi melanda kawasan Tasikmalaya, 2 September 2009 silam.

Wakil Kepala Sekolah SD Budiwangi, Ucu Yoyo Mumahamad Zaely, Senin (29/11/2010), mengatakan, para siswanya terpaksa harus belajar disebuah bangunan dengan material seadanya, karena material tembok bangunan sekolah yang biasa digunakan hancur diguncang gempa sehingga tidak layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Para siswa, lanjut Ucu, belajar dengan kondisi tidak nyaman akibat sorotan langsung matahari, bahkan siswa terpaksa dibubarkan jika turun hujan. Kondisi ruang kelas yang rusak sejak bencana alam gempa bumi belum dilakukan perbaikan dan dibiarkan menyisakan puing-puing material bangunan, meski pengajuan perbaikan sudah dilakukan.

Meskipun belajar disebuah gubuk tanpa dinding, namun kata Ucu siswa yang tercatat dari kelas 1 hingga 6 sebanyak 185 siswa tampak semangat belajar dari Senin hingga Sabtu.

“Bangunan yang kami gunakan sekarang ini, dibangun inisiatif kami dari pihak sekolah dan para murid,” kata Ucu.

Salah seorang siswa kelas 5, Deina, mengaku belajar dibangunan yang memprihatinkan itu terkadang sulit untuk konsentrasi memperhatikan pelajaran yang disampaikan guru. Perasaan tersebut, kata dia dialami teman-teman lainnya, apalagi saat terik matahari terkadang merasa kegerahan dan tidak nyaman mengikuti pelajaran.

“Apalagi kalau hujan, airnya suka masuk, karena atapnya bocor,” ungkap Deina.

Sementara, menanggapi masalah tersebut, Ketua Dewan Pembina Masyarakat Peduli Pendidikan, Cucu Rasman, merasa prihatin melihat kondisi kegiatan belajar mengajar di SD Budiwangi.

“Pemerintah Daerah sudah semestinya mengalokasikan dana membangun sekolah yang roboh itu, apalagi disebabkan oleh bencana,” katanya.

http://www.surya.co.id/2010/11/29/sejak-gempa-murid-sd-di-tasikmalaya-belajar-di-gubuk.html

Nasdem keistimewaan D I Yogyakarta jangan dikaitkan isu monarki.

Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan Nasional Demokrat (Nasdem), Ferry Mursyidan Baldan mengingatkan, keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta agar tidak dikaitkan dengan isu monarki.

“Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dikaitkan dengan isu monarki, seolah mengabaikan pesan konstitusi tentang kekhususan dan keistimewaan wilayah budaya yang bersejarah itu,” katanya di Jakarta, Senin (29/11/2010).

Dia mengatakan, mengibaratkan keberadaan Keistimewaan DIY sebagai monarki dalam NKRI tentu saja mengagetkan banyak pihak dan mengganggu spirit ke-NKRI-an. “Pernyataan yang seolah mempermasalahkan posisi DIY sebagai Provinsi NKRI harus segera diklarifikasi, agar kita semua dalam spirit yang sama dalam menjaga NKRI,” kata mantan anggota Komisi II DPR RI dari Partai Golkar itu.

Ia mengingatkan pula, “bukankah keragaman, termasuk pengakuan bentuk keistimewaan dan kekhususan merupakan hal sudah ada sejak Indonesia merdeka?”.

“Makanya, pertanyaan berikutnya, perlukah kita mengungkit sesuatu yang merupakan kekayaan bangsa ini. Apalagi DIY menjadi wilayah yang paling terbuka untuk menjadi tempat hidup dan berkehidupan bagi semua rakyat Indonesia,” ujar mantan Ketua Pansus RUU Pemilu pada DPR RI periode sebelumnya ini.

Hal kedua yang diingatkan Ferry Mursyidan Baldan ialah, DIY ini merupakan salah satu provinsi dalam negara Indonesia. “Ada sejarah yang telah kita lalui dan telah menegaskan tentang posisi DIY menjadi bagian dari NKRI sepenuhnya,” katanya mengingatkan lagi.

Selama ini, menurutnya, Sultan sebagai Kepala Daerah bagi Provinsi DIY menjalankan tugas, peran dan fungsi sebagaimana Kepala Daerah lainnya, bahkan kewajibannya,” jelasnya. “Malahan, perangkat DIY sebagai provinsi pun tidak berbeda. Ada sekda, kepala dinas, fungsi pengawasan oleh DPRD, adanya perda sebagai produk legislatif, dan penyusunan APBD,” katanya.

Jadi, menurutnya, DIY sama sekali bukan sebuah monarki, tapi sebuah Provinsi DIY. “Yang berbeda adalah hanya dalam tata cara penetapan Kepala Daerah. Bukankah pengaturan tentang Kepala Daerah pun sudah mendapat legitimasi oleh negara,” katanya.

Jika pernyataan Presiden Yudhoyono bermaksud mempersoalkan tatacara penetapan Kepala Daerah, ia menilai, hal itu berdampak jauh dalam konteks NKRI. “Karena pernyataan tentang monarki seolah menempatkan DIY bukan bagian dari NKRI,” tegas Ferry Mursyidan Baldan. http://www.surya.co.id/2010/11/29/jangan-kaitan-keistimewaan-diy-dengan-monarki.html

Monday, November 29, 2010

Cewek Perkosa Cewek di Toilet Hotel

Seorang perempuan memerkosa perempuan lain dalam sebuah kamar toilet di hotel Brisbane, Australia, kata seorang jaksa.

Seorang perempuan berumur 25 tahun, Anne-Marie O’Loughlin, mengaku tidak bersalah atas dua tuduhan perkosaan, perampasan kebebasan dan kekerasan seksual kepada Pengadilan Distrik Brisbane, Senin (29/11). Seorang jaksa penuntut, Chris Minnery, mengatakan kepada persidangan dalam pernyataan pembukanya, sang korban yang tidak ingin namanya disebutkan sedang berada di Hotel Caxton Street dengan rekan dan sejumlah kawannya sewaktu korban pergi sendirian ke kamar mandi dan diperkosa oleh O’Loughlin pada 29 November 2008.

Namun ketika dia mencoba pergi, tersangka menarik rambutnya dan membanting kepalanya ke dinding lalu menariknya ke kamar toilet, kata Minnery. Ia menambahkan, O’Loughlin kemudian diduga memerkosa korbannya. "Korban mendengar orang lain di kamar toilet sebelahnya dan mencoba mengatakan sesuatu serta memukul dinding kamar itu," kata Minnery.

"Dia dipaksa O’Loughlin untuk diam dan tetap tenang sementara orang di kamar toilet sebelahnya datang dan mengetuk pintu kamar toilet dengan mengatakan, "Saya akan memanggil petugas keamanan".

Minnery mengatakan O’Loughlin pergi sebelum pihak keamanan datang, tetapi dia lupa membawa tas yang berisi identitasnya yang diambil sang korban. O’Loughlin ditangkap diluar hotel dan mengatakan kepada polisi dia hanya mencium wanita itu di kamar toilet.

Minnery menjelaskan bahwa polisi telah mengambil contoh kulit yang ditemukan dibawah kuku jari O'Loughlin dan menyatakan kecocokan dengan DNA sang korban.
http://internasional.kompas.com/read/2010/11/29/18224464/Cewek.Perkosa.Cewek.di.Toilet.Hotel

Banjir Lahar Dingin, Kali Code Meluap warga diungsikan

Kali Code yang melintas di tengah Kota Yogyakarta sore ini meluap. Luapan sudah melebihi batas tanggul sungai. Sehingga beberapa rumah warga kebanjiran hingga ketinggian lebih dari 30 centimeter.

Banjir mulai terjadi sekitar pukul 17.00 WIB, Senin (29/11/2010). Beberapa jam sebelumnya, di kawasan lereng atas Gunung Merapi terutama di hulu Kali Boyong terjadi hujan deras. Di kawasan Ledok Terban, Kecamatan Gondokusuman, Ledo Jogoyudan, Kecamatan Jetis, rumah-rumah warga saat ini dikosongkan terutama yang berada di pinggir sungai.

Warga diminta mengungsi di wilayah bagian atas. Saat ini di sepanjang bantaran Kali Code mulai dari Ledok Terban sampai dengan Ledok Bintaran dan Ledok Mergansan tampak warga mulai bersiaga.

Di pinggir sungai, juga dipasang alat penerangan untuk memantau luapan air. Air yang mengalir berwarna kecoklatan dan bercampur dengan pasir pekat.

Warga Yogyakarta banyak yang berkumpul di jembatan-jembatan yang dilintasi Kali Code. Aparat kepolisian dan Satpol PP berusasha meminta mereka untuk menyingkir agar tidak mengganggu jalannya lalu lintas.

Kali Code yang membentang di Kota Yogyakarta, Senin (29/11) tiba-tiba meluap membawa material vulkanik dari Gunung Merapi.

Berdasarkan Pantauan di lapangan arus deras tiba-tiba mengalir sekitar pukul 17: 15 sambil membawa material vulkanik dan membanjiri rumah sekitar. Padahal, beberapa jam sebelumnya, aktivitas tampak normal termasuk pengerukan pasir oleh arat berat. Sontak, warga dan pelintas menyemut menyaksikan peristiwa itu.

Tak hanya dipenuhi material vukanik, banjir lahar dingin yang meluap di sepanjang Kali Code juga menyebabkan tiga warga RT 10, Jogoyudan, Kota Yogyakarta terjebak di atas genteng rumah miliknya.

Demikian dikatakan Petugas Pemantau Pemprop DIY, Sutrisno, Senin (29/11). Ketiga warga yang terjebak belum bisa dievakuasi. talud sementara yang terbuat dari karung pasir jebol, termasuk di selatan Gondomanan.

Berdasarkan Pantauan di lapangan arus deras tiba-tiba mengalir sekitar pukul 17: 15 sambil membawa material vulkanik dan membanjiri rumah sekitar. Padahal, beberapa jam sebelumnya, aktivitas tampak normal termasuk pengerukan pasir oleh arat berat. Sontak, warga dan pelintas menyemut menyaksikan peristiwa itu.

Kepala Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Yogyakarta menyatakan, tebing di tiga wilayah kota Yogya ambrol dan sedikitnya 500 warga di wilayah Jambu - Jetis, Rusunawa Cokrodirjan dan Jogoyudan dievakuasi akibat rumah mereka terendam banjir luapan Sungai Code.

"Banjir akibat meluapnya sungai Code menyebabkan tebing di tiga wilayah kota Yogya ambrol dan sekitar 500 warga di wilayah Jambu - Jetis, Rusunawa Cokrodirjan dan Jogoyudan dievakuasi. Sungai Code terendam air akibat hujan deras yang mengguyur daerah Kabupaten Sleman, Senin (29/11) siang

Kali Code di Kota Yogyakarta banjir lahar dingin dari Gunung Merapi akibat hujan deras di bagian hulu, Senin (29/11/2010) petang. Pantauan Tribun Jogja dari atas Jembatan Kewek di Jalan Pangeran Mangkubumi, banjir lahar dingin itu memasuki perkampungan di pinggir Kali Code.
Saya tidak tega melihat rumah saya terendam. Saya hanya bisa ikhlas.
-- Susilo

Puluhan rumah di bantaran Kali Code terendam sampai ke bagian atap. Salah satunya rumah milik Susilo (50), warga Kampung Jogoyudan RW 10, Gowongan, Jetis, Yogyakarta.

“Saya tidak tega melihat rumah saya terendam. Saya hanya bisa ikhlas,” ucap Susilo kepada Tribun Jogja.

Karena rumahnya kebanjiran, Susilo terpaksa mengungsi ke tempat aman di wilayah RW 13.

Pria dewasa dan pemuda di lokasi tersebut beramai-ramai menyiapkan karung-karung berisi pasir sebagai tanggul penghalang agar air sungai tak masuk ke permukiman.

Sementara itu, ibu-ibu dan anak-anak diimbau agar meninggalkan bantaran Kali Code. Padatnya kegiatan warga, selain memunculkan kepanikan, juga membuat arus lalu lintas macet

rief, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, Senin (29/11/2010), di akun Twitter-nya, ada empat jembatan kecil yang terputus, masing-masing satu jembatan di Jetisharjo, satu jembatan di Cokrokusuman, dan dua jembatan di Tukangan.

Selain itu, lahar dingin juga menggerus talut sungai. Misalnya, di Dusun Kembangsongo, Jetis, Bantul, yang ambrol sepanjang 20 meter. Hal tersebut menyebabkan air meluap ke permukiman warga hingga setinggi lutut.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir lahar terjadi di beberapa titik kawasan Kali Code yang melintasi Kota Yogyakarta sejak sekitar pukul 18.00 WIB. Luapan banjir lahar melanda permukiman sehingga penduduk mengungsi ke tempat-tempat yang lebih tinggi. Banjir lahar terjadi akibat hujan lebat yang terjadi sepanjang siang di hulu Kali Code yang berada di Gunung Merapi.

Kepala Bidang Pencegahan Direktorat Pengurangan Risiko Bencana Lilik Kurniawan langsung berkoordinasi dengan aparat di lapangan dan mengimbau kepada warga di sekitar Kali Code untuk menjauhkan diri dari pinggiran Kali Code serta semua camat dan ketua RW/RT diminta untuk mengarahkan evakuasi warganya yang tinggal di sepanjang Kali Code.

Banjir lahar ini terjadi akibat hujan yang cukup deras sepanjang siang tadi di hulu sungai yang berada di lereng Gunung Merapi. Hasil pemantauan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, terjadi hujan lebat (48 mm/jam) di Pos Ngepos pada pukul 14.55-17.25 WIB. Sementara dari Pos Jrakah, hujan teramati pada pukul 10.50-11.05 WIB dengan intensitas sedang (12 mm/jam).

Dari hasil pantauan di lapangan, kawasan permukiman di sekitar Jembatan Jambu di Jalan Jaminahan, air sudah memasuki rumah warga hingga setinggi lutut. Demikian pula permukiman di Jalan Perahu, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Gondokusuman, air Kali Code sudah meluap setinggi 1 meter. Beberapa rumah sudah kemasukan air dan lumpur pasir. Namun, sebagian besar warga masih belum mengungsi.

GBPH Joyokusumo, Adik Sultan HB X: SBY Ingin Menghancurkan NKRI

Adi kandung Sultan Hamengku Buwono X, GBPH Joyokusumo mempertanyakan pernyataan SBY tentang Indonesia tidak menerapkan sistem monarki. Penyataan SBY dinilai bisa menhancurkan kesatuan RI karena menafikan aspek historis.

"Dengan pernyataan yang tidak punya dasar sejarah, konstitusi, dan demokrasi itu, sadar atau tidak sadar, SBY mau menghancurkan NKRI," kata Joyokusumo melalui surat elektronik ke wartawan, Senin (29/11/2010).

Joyokusumo mengatakan, dengan pernyataan SBY dalam rapat terbatas di Istana Negara itu, seakan mengabaikan sejumlah amanat dan sejarah yang sudah dibuat sebelumnya di republik ini.

"Bagaimana kita memaknai amanat Sri Sultan HB IX dan amanat Paku Alam VIII tanggal 5 September 1945 yang berisi, Yogya & Paku Alaman yang bersifat kerajaan adalah daerah istimewa dari Negara RI," terang Joyokusumo.

Selain itu, mantan anggota DPR dari Golkar ini juga meminta pemerintah tidak mengabaikan amanat jika Sultan HB dan Paku Alam selaku kepala daerah, memegang seluruh kekuasaan di Yogya Paku Alaman, dan hubungan antara Yogya & Paku Alaman dengan pemerintah pusat bersifat langsung. Sultan dan Paku Alam juga bertanggung jawab langsung kepada Presiden RI.

Menurut Joyokusumo, penetapan Sultan HB sebagai kepala daerah juga telah diamanatkan oleh Presiden Soekarno melalui piagam.

"Bagaimana kita memaknai Piagam Kedudukan Sultan HB IX & Paku Alam VIII yg ditandatangani Presiden Soekarno yang menetapkan Sultan dan Paku Alam pada kedudukannya," tuturnya.

Lebih lanjut, menurut Joyokusumo, jika SBY menilai sistem monarki tidak bisa diterapkan, bagaimana ia menjelaskan soal kenyataan bahwa Sultan HB IX dan Paku Alam VIII sampai akhir hayatnya menjabat sebagai Gubernur dan Wagub DIY.

"Bagaimana kita memaknai kenyataan bahwa Sultan HB IX, dengan berbagai peran dan jabatannya dalam pemerintahan negara RI dan Paku Alam VIII sampai akhir hayatnya adalah Gubernur dan Wagub DIY. Walaupun gubernur dan wagub di provinsi lain silih berganti," jelasnya.

Sebelumnya, Presiden SBY mengungkapkan tidak mungkin Indonesia menerapkan sistem monarki, karena akan bertabrakan baik dengan konsitusi maupun nilai demokrasi.

Untuk itu pemerintah dalam penyusunan rancangan undang undang (RUU) tentang Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) optimistis bisa menemukan satu kerangka yang bisa menghadirkan sistem nasional atau keutuhan NKRI dan keistimewaan Yogyakarta yang harus dihormati.

"Tidak mungkin ada sistem monarki yang bertabrakan baik dengan konstitusi maupun
nilai demokrasi," kata Presiden SBY dalam rapat terbatas untuk mendengarkan laporan dan presentasi dari Mendagri tentang kemajuan dalam penyiapan empat RUU di Kantor Presiden Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat (26/11/2010).

Pernyataan SBY ini dinilai Wakil Ketua Komisi II Ganjar Pranowo, sebagai sikap pemerintah yang menginginkan Gubernur DIY dipilih langsung. Klausul utama itu juga yang diduga menjadi penyebab utama tak kunjung dikirimnya draf RUU itu ke DPR.

"Kalau itu sikapnya (SBY) begitu, pasti dia menghendaki gubernur dipilih langsung. Maka keistimewaan Yogya selama ini akan diakhiri oleh SBY," kata Wakil Ketua Komisi II, Ganjar Pranowo, saat dihubungi detikcom, Sabtu (27/11/2010).

Menurut Ganjar, penetapan Gubernur DIY seperti yang berlangsung sampai saat ini adalah bagian dari kekhususan dan keragaman daerah, sebagaimana tertulis dalam pasal 18A ayat 1 UUD 1945. Kekhususan dan keragaman ini juga yang melandasi diberlakukannya hukum syariah di Aceh, otonomi khusus Papua, dan ditunjuknya Walikota di Provinsi DKI Jakarta.

Ganjar mengatakan, jika yang dijadikan landasan presiden adalah pasal 18 ayat 4 UUD bahwa kepala daerah dipilih secara demokratis, kenapa hal yang sama tidak dilakukan pada Walikota DKI yang ditunjuk langsung.

Ganjar menyarankan, Presiden sebaiknya memanggil Sri Sultan Hamengkubowono X untuk membicarakan RUU Keistimewaan DIY, khususnya soal klausul pemilihan langsung atau penetapan itu. Hal ini penting untuk mempercepat penyelesaian UU Keistimewaan DIY, di samping jabatan Sultan yang akan berakhir Oktober 2011.

http://www.detiknews.com/read/2010/11/29/134128/1504783/10/adik-sultan-hb-x-sby-ingin-menghancurkan-nkri

Keistimewaaan Yogyakarta Sultan Harus Lepas Identitas Politik

Wakil Sekretaris Jenderal PKS Mahfudz Siddiq mengatakan tidak ada masalah jika keturunan Sultan Hamengkubuwono dari Keraton Yogyakarta langsung menjabat sebagai Gubernur DI Yogyakarta yang sah. Hanya saja, Sultan harus meninggalkan identitas politiknya.

"Enggak ada masalah. Catatan dari PKS, jika itu posisinya, maka Sultan itu harus berdiri di atas semua kepentingan, golongan, kelompok dan warga Yogyakarta, dalam arti kata, Sultan tidak boleh menjadi pimpinan atau pengurus parpol," ungkapnya di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Senin (29/11/2010).

Keistimewaan kepemimpinan DI Yogyakarta, lanjut Ketua Komisi I DPR RI ini, dijamin oleh UU Otonomi Daerah. Selain itu, sejumlah dokumen juga mendukung, seperti dokumen sejarah politik adanya kesepakatan kesultanan Yogyakarta saat bersatu dengan Republik Indonesia, serta tradisi dan kearifan lokal.

Dengan data-data ini, Mahfudz mengatakan tidak masalah jika Sultan otomatis menjadi gubernur. "Kan UU Otonomi Daerah memungkinkan kekhususan-kekhususan, sebagaimana DKI Jakarta, wali kota-wali kotanya kan enggak dipilih langsung (oleh rakyat) karena dia daerah khusus," katanya.

Sementara itu, menanggapi pernyataan Presiden, Mahfudz enggan berpolemik. "Ya kalau kemarin, itu urusan presiden, terserahlah mau bilang apa," tandasnya.

Yang terpenting, lanjutnya, jika rakyat Yogyakarta menginginkan hal itu dan Sultan teguh dalam prinsipnya, maka tak perlu keberatan Sultan otomatis menjadi Gubernur. Asalkan Sultan tidak terlibat dalam partai politik. Jika terlibat di ormas, seperti Nasional Demokrat, Mahfudz mempersilahkan saja. Asalkan juga Nasdem nantinya tidak bermetamorfosis menjadi partai politik.
http://regional.kompas.com/read/2010/11/29/14335143/Sultan.Harus.Lepas.Identitas.Politik

Sunday, November 28, 2010

Bantuan Ditumpuk di Gudang, Pengungsi Merapi Nekat Pulang

750 Pengungsi Tempat Pengungsian Akhir (TPA) Tanjung, Desa Tanjung, Kecamatan Muntilan, Magelang, Jawa Tengah yang dari Desa Kaliurang dan Desa Kemiren, Magelang yang berada di radius 6-7 km, Minggu(28/11/2010) nekat dan pulang ke rumahnya. Hal itu dikarenakan adanya konflik dengan relawan.

Sebab, selain merasa bosan dan tidak betah, ratusan pengungsi mengalami konflik dengan relawan dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Magelang. Padahal BPPTK menetapkan radius aman penduduk Merapi yang terkena bencana erupsi Merapi paling tidak di atas 10 kilometer dari puncak Merapi.

Konflik itu terjadi ketika bantuan yang berada di gudang menumpuk, tidak diberikan kepada pengungsi yang berada di TPA Tanjung. Bantuan malah diberikan kepada pengungsi di luar TPA Tanjung.

Pernyataan itu disampaikan Suharno(44), penanggung jawab TPA Tanjung yang juga Kepala Desa Kaliurang saat ditemui detikcom di TPA Tanjung, Desa Tanjung, Kecamatan Muntilan, Magelang.

"Kehendak masyarakat di Desa Kaliurang terpuruk andalkan salak lumut untuk bisa kembali ke kebun dan melakukan perbaikan. Selain itu juga ada sedikit miskomunikasi dan bisa dibilang konflik antara masyarakat dan LSM Tagana di TPA Tanjung," kata Suharno.

Menurut Suharno, sebetulnya tugas Tagana sudah ada garis-garisnya dan dibagi titik titik tertentu untuk mengurusi sendiri-sendiri. "Namun yang terjadi Tagana seolah-olah menguasai semuanya persoalan di TPA Tanjung," imbuhnya.

Suharno menjelaskan, semacam bantuan untuk distribusi masyarakat pengungsi berbentuk logistik makanan harus segera disampaikan, tetapi di TPA Tanjung malah menumpuk di gudang.

"Jadi da kecemburuan masyarakat kenapa itu tidak segera didistribusikan ke masyarakat," tambah Suharno.

Logistik Menumpuk

Ketua Tim URC Dinas Sosial, Magelang, Jawa Tengah Agung Suhartoyo mengakui memang sempat terjadi keruwetan soal pengurusan logistik dan penanggung jawab TPA Tanjung.

"Awal erupsi bencana Merapi terjadi, Dinsos dan Tagana yang memegang. Kemudian masuk dari staf ahli Pemkab Magelang yang mengurusi. Bahkan pengungsi sempat memegang kunci setelah itu diminta kembali dan dirusui oleh tagana dan Dinsos Magelang," tegas Agung.

Saat dikonfirmasi di TPA Tanjung, Asisten III Bupati Magelang, Indra Wacana, menyatakan kepulangan pengungsi bukan diminta atau disuruh pemerintah Magelang tetapi mereka ingin segera menggerakkan perekonomian mereka di desa.

"Kepulangan mereka bukan atas permintaan atau disuruh pemerintah. Tetapi mereka ingin segera memulihkan perekonomianya di kebun salak mereka yang rusak parah dan terpuruk perekonomianya," kata Indra.

Indra berjanji logistik yang menumpuk di TPA Tanjung akan segera didrop dan didorong untuk diantar ke rumah mereka masing-masing. "Akan kita data per KK siapa jumlahnya berapa dan akan kita drop," ucapnya.

Pantauan detikcom di TPA Tanjung, Muntilan, Magelang ribuan logistik berupa mie instan, ember, sarung, air mineral, pakaian bekas tidak didistribusikan ke pengungsi dan menumpuk di gudang TPA Tanjung. Belasan ruang tidur, aula dan pos satkorlak, serta ruang pos Tagana dalam keadaan kosong tanpa penghuni.
http://www.detiknews.com/read/2010/11/28/172843/1504290/10/konflik-dengan-relawan-pengungsi-merapi-nekat-pulang?nd992203605

Taman Nasional Gunung Merapi Merugi Rp 55 Triliun

Letusan Gunung Merapi di perbatasan Jateng-DIY memakan korban jiwa. Taman Nasional Gunung Merapi juga merugi cukup besar hingga Rp 55 triliun.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi, Tri Prasetya, kepada detikcom, Minggu (28/11/2010).

Kerugian cukup besar ini diakibatkan kerusakan yang cukup parah di beberapa wilayah meliputi hutan dan ekosistem flora dan fauna di kawasan Jawa Tengah dan Yogyakarta yang luasnya mencapai sekitar 2.800 hektar dari total luas tanaman nasional 6.410 hektar. Di Kabupaten Magelang sendiri, kerusakan taman nasional mencapai 800 hektar.

Menurut Prasetyo, rehabilitasi di kawasan yang rusak itu memerlukan waktu sekitar 50 tahun. Hal ini disebabkan luasnya daerah yang rusak parah. Kerusakan terparah di wilayah Cangkringan, dimana hampir 1.150 hektar pohon pinus terkena awan panas Merapi.

“Tapi untuk pemulihan secara bertahap bisa 10 tahun untuk melihat perubahannya secara signifikan. Dengan catatan, selama waktu kegiatan pemulihan itu tidak terjadi lagi bencana letusan Merapi,” jelas Prasetyo.

Prasetyo memaparkan. 2.800 hektar kawasan taman nasional yang rusak berupa vegetasi pinus, hutan rimba, dan hutan penelitian. Selain kerusakan tersebut, letusan Merapi juga mengakibatkan hilangnya sumber mata air di sejumlah titik di lereng Merapi.

Akibatnya jika terjadi hujan deras, lereng Merapi terancam erosi dan banjir. Apalagi, bangunan dan fasilitas yang ada juga telah roboh.

“Dampak sekunder dari letusan yaitu banjir lahar dingin akibat hujan deras di puncak Merapi, bisa lebih parah lagi dengan kondisi kerusakan yang terjadi tersebut,” ungkap Prasetyo.

Lebih jauh lagi, Prasetyo menambahkan, letusan Merapi telah memusnahkan flora dan fauna di Gunung Merapi. Di lereng Merapi jenis habitat hewan yang selama ini hidup adalah seperti burung Elang Jawa, Elang Hitam, dan lainnya. Burung tersebut saat ini dimungkinkan telah mengungsi ke lereng Gunung Merbabu.

Dalam rangka rehabilitasi, Prasetyo menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan kerjasama dengan beberapa instansi. “Seperti misalnya akan menjalin kerjasama dengan Universitas Gajah Mada, Kementerian Kehutanan, dan lainnya untuk mendapatkan blue print bagaimana arah rehabilitasi,” tandasnya.
http://detiknews.com/read/2010/11/28/200613/1504344/10/taman-nasional-gunung-merapi-merugi-rp-55-triliun?nd992203topnews

Akibat Facebook Perceraian Meningkat di Ciamis

Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terkejut dalam kurun waktu Oktober tercatat 507 pasangan suami isteri di daerah Tatar Galuh, Ciamis mengajukan cerai.

Penyebab hancurnya rumah tangga mereka yang paling dominan karena perselingkuhan baik dengan SMS maupun face book. ” Mereka mengaku terjadinya cerai akibat masuknya pihak ketiga. SMS dan face book biangkerok perceraian,” kata Humas Pengadilan Agama Ciamis, Anang Permana,Jumat.

Dia menegaskan, jumlah 507 penggugat cerai dalam waktu sebulan ini merupakan angka yang spektakuler. Pasalnya lanjut dia, jumlah itu mengalami kenaikan 50 persen dibanding bulan sebelumnya. Untuk Agustus pasangan suami isteri yang mengajukan cerai mencapai 250 orang.
Pada Oktober 2010 jumlah tersebut mendadak naik drastis hingga mencapai 507 pasangan. ” Kami sangat prihatin kok, di Ciamis angka cerai sangat tinggi dan mampu mengalahkan Indramayu, Krawang serta Cirebon,”.

Berdasar catatan, tegas dia, setelah liburan Lebaran tercatat jumlah perceraian yang tercatat di PA Ciamis sebanyak 3.273 kasus, sedangkan tanggal 13 Oktober naik menjadi 3.780 kasus. Kemudian selama Puasa, PA sendiri mencatat sedikitnya 15-20 pasangan suami isteri di Ciamis mengajukan cerai. Melihat data ini, Anang menyimpulkan rata-rata pasangan suami isteri yang mengajukan cerai di Ciamis rata-rata 300-400 pasangan. hanya, memasuki Oktober ini jumlahnya naik menjadi 507 pasanga.

Perihal penyebab tingginya cerai di Ciamis, lagi-lagi Anang menduga kuat akibat semaraknya Hp dan face book. Ini berarti isteri menggugat cerai karena suaminya memiliki Wanita Idaman lain (WIL), kemudian suaminya mengajukan cerai lantaran isterinya memiliki Pria Idaman Lain (PIL). ” Penyebab PIL lebih tinggi ketimbang WIL. Jadi isteri yang tergoda pria lain melalui face book dan SMS,” ujarnya

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/10/15/akibat-face-book-perceraian-meningkat-di-ciamis

Kepala BKKBN: 51 dari 100 Remaja di Jabodetabek Sudah Tak Perawan

Seks sebelum menikah telah dilakukan sejumlah remaja. Data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada 2010 menunjukkan, 51 persen remaja di Jabodetabek telah melakukan seks pra nikah.

"Artinya dari 100 remaja, 51 sudah tidak perawan," ujar Kepala BKKBN Sugiri Syarif usai memberikan sambutan acara Grand Final Kontes Rap dalam memperingati Hari AIDS sedunia di lapangan parkir IRTI monas, Minggu (28/11/2010).

Beberapa wilayah lain di Indonesia, seks pra nikah juga dilakukan beberapa remaja. Misalnya saja di Surabaya tercatat 54 persen, di Bandung 47 persen, dan 52 persen di Medan.

Bagaimana dengan kehamilan yang tidak diinginkan? "Hasil penelitian di Yogya dari 1.160 mahasiswa, sekitar 37 persen mengalamai kehamilan sebelum menikah," kata Sugiri.

Selain itu data tentang penyalahgunaan narkoba menunjukkan, dari 3,2 juta jiwa yang ketagihan narkoba, 78 persennya adalah remaja. Sedangkan penderita HIV/AIDS terus meningkat setiap tahunnya.

Solusinya, lanjut dia, konseling untuk remaja agar tidak melakukan seks pra nikah akan terus dilakukan.

Dari rilis BKKBN yang diterima wartawan diketahui, estimasi jumlah aborsi di Indonesia per tahun mencapi 2,4 juta jiwa. 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja.

Berdasarkan data Kemenkes pada akhir Juni 2010 terdapat 21.770 kasus AIDS dan 47.157 kasus HIV positif dengan persentase pengidap usia 20-29 tahun yakni 48,1 persen dan usia 30-39 tahun sebanyak 30,9 persen. Selain itu kasus penularan terbanyak adalah heteroseksual sebanyak 49,3 persen, homoseksual sebanyak 3,3 persen dan IDU 40,4 persen. http://www.detiknews.com/read/2010/11/28/094930/1504117/10/kepala-bkkbn-51-dari-100-remaja-di-jabodetabek-sudah-tak-perawan?n991102605

RUU Keistimewaan DIY Pernyataan SBY Isyaratkan Gubernur DIY Dipilih Langsung

Pernyataan Presiden SBY bahwa Indonesia tidak mungkin menganut sistem monarki terkait pembahasan RUU Keistimewaan DIY, menunjukkan keinginan pemerintah agar Gubernur DIY dipilih langsung. Klausul utama itu juga yang diduga menjadi penyebab utama tak kunjung dikirimnya draf RUU itu ke DPR.

"Kalau itu sikapnya (SBY) begitu, pasti dia menghendaki gubernur dipilih langsung. Maka keistimewaan Yogya selama ini akan diakhiri oleh SBY," kata Wakil Ketua Komisi II, Ganjar Pranowo, saat dihubungi detikcom, Sabtu (27/11/2010).

Menurut Ganjar, penetapan Gubernur DIY seperti yang berlangsung sampai saat ini adalah bagian dari kekhususan dan keragaman daerah, sebagaimana tertulis dalam pasal 18A ayat 1 UUD 1945. Kekhususan dan keragaman ini juga yang melandasi diberlakukannya hukum syariah di Aceh, otonomi khusus Papua, dan ditunjuknya Walikota di Provinsi DKI Jakarta.

"Nah, sekarang kalau soal DIY presiden mau seperti itu, mestinya presiden bilang tidak perlu ada otsus Papua, Aceh harus pakai hukum nasional, DKI walikotanya dipilih langsung. Berani nggak Presiden melakukan itu?" kata politikus PDI Perjuangan.

Ganjar mengatakan, jika yang dijadikan landasan presiden adalah pasal 18 ayat 4 UUD bahwa kepala daerah dipilih secara demokratis, kenapa hal yang sama tidak dilakukan pada Walikota DKI yang ditunjuk langsung.

"Justru presiden yang tidak memahahi konstitusionalitas dalam pasal 18A yang
mengatur keistimewaan dan kekhususan daerah," kata Ganjar.

Menurut Ganjar, Presiden sebaiknya memanggil Sri Sultan Hamengkubowono X untuk membicarakan RUU Keistimewaan DIY, khususnya soal klausul pemilihan langsung atau penetapan itu. Hal ini penting untuk mempercepat penyelesaian UU Keistimewaan DIY, di samping jabatan Sultan yang akan berakhir Oktober 2011.

Sebelumnya, dalam rapat terbatas di Kantor Presiden kemarin, Presiden menyatakan tidak mungkin Indonesia menerapkan sistem monarki, karena akan bertabrakan baik dengan konsitusi maupun nilai demokrasi. Untuk itu pemerintah dalam penyusunan RUU Keistimewaan DIY optimistis bisa menemukan satu kerangka yang bisa menghadirkan sitem nasional atau keutuhan NKRI dan keistimewaan Yogyakarta yang harus dihormati.

"Tidak mungkin ada sistem monarki yang bertabrakan baik dengan konstitusi maupun nilai demokrasi," kata Presiden SBY.

Penggarapan RUU Keistimewaan DIY molor dari jadwal yang seharusnya sudah rampung dalam 100 hari pemerintahan SBY. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubowono X pernah mengusulkan referendum terkait klausul Gubernur DIY ditetapkan atau dipilih langsung. Referendum bisa jadi salah satu alternatif jika belum ada kata sepakat mengenai poin substansial dalam pembahasan RUU Keistimewaan DIY itu.

http://www.detiknews.com/read/2010/11/27/093635/1503718/10/pernyataan-sby-isyaratkan-gubernur-diy-dipilih-langsung

Pelesiran ke Turki Anggota DPR Sebut Rp 800 Juta Cuma Receh Dikecam

Wakil Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR Nudirman Munir menyebut biaya kunjungan ke Turki sebesar Rp 800 juta cuma receh. Dia menilai uang ini sedikit jika dibandingkan dengan manfaat yang didapat dari kunjungan ke Turki. Ucapan Munir pun dinilai tidak etis diucapkan seorang wakil rakyat.

"Saya kira ini sangat tidak etis. Untuk rakyat kecil ini jumlah yang sangat banyak. Apalagi bangsa ini sedang menghadapi banyak bencana," ujar peneliti politik Charta Politika, Arya Fernandes kepada detikcom, Sabtu (27/11/2010).

Arya menilai tidak ada korelasinya kunjungan BK DPR ke Turki dengan tugas mereka di DPR. Apalagi menjual furniture, sama sekali tidak ada kaitannya.

"Hasil dari kunjungan tidak ada korelasi antara kunjungan ke Turki dengan penguatan BK DPR. Harusnya kunjungan untuk penguatan BK. Tidak ada hubungan dengan furniture," tegas Arya.

Arya menduga Nudirman hanya mencari-cari alasan saja agar tindakan para anggota dewan ke Turki ini dimaklumi. Menurut Arya, sebelumnya BK mengaku hanya transit 2 jam. Tapi belakangan mengaku hingga 2 hari.

"Nudirman hanya mencari apologi saja. Ini apologi yang tidak beralasan. Agar masyarakat bisa menerima saja," terang dia.

Sebelumnya anggota BK DPR yang pelesiran ke Turki di sela-sela kunjungan ke Yunani berharap tindakan mereka tidak dipermasalahkan terus. Di tengah serbuan kritik, mereka beranggapan kunjungan ke Turki tetap ada manfaatnya.

"Kenapa yang receh-receh kita pergi cuma habiskan Rp 800 juta dipermasalahkan. Padahal banyak manfaatnya," ujar Wakil Ketua BK DPR, Nudirman Munir, dalam diskusi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (26/11).

http://www.detiknews.com/read/2010/11/27/113146/1503765/10/anggota-dpr-sebut-rp-800-juta-cuma-receh-dikecam

Erupsi Bromo Berlangsung Sepanjang Hari, Warga Ngadisari Terus-Menerus Sembahyang

Erupsi minor Gunung Bromo sepanjang Sabtu (27/11/2010) berlangsung hampir sepanjang hari. Sejak erupsi minor pada pukul 5.09 sampai berita ditulis sekitar pukul 17.00, kawah Bromo terus mengeluarkan asap kelabu tebal dan bergulung-gulung.

"Akumulasi energi masih cenderung naik," kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Bromo Muhammad Syafi'i. Pada 27 November, tercatat 19 gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo maksimal 7-38 mm dan lama gempa 10-50 menit.

Tremor terjadi menerus dengan amplitudo mencapai 28 mm. Pada Sabtu pagi juga terdeteksi satu gempa vulkanik dalam dengan amplitudo maksimal 38 mm dengan gempa sekunder primer 5 mm dan lama 28 detik.

Deformasi Gunung Bromo juga terus terjadi. Sepanjang 13-27 November terjadi penggembungan 12 mikroradian. Secara kasat mata, kawah Bromo terus mengeluarkan asap kelabu kehitaman yang bergulung-gulung dengan intensitas berbeda-beda.

Sabtu pagi sampai siang, Gunung Bromo tampak jelas. Namun menjelang sore, gerimis dan kabut menutupi kawah. Sehari sebelumnya, Gunung Bromo meletus kecil pada pukul 17.22.

Saat itu asap kelabu kehitaman membubung sampai ketinggian 600-700 meter dari bibir kawah. Erupsi minor ini berlangsung selama 3 jam 56 menit.

Menurut Ketua Tim Tanggap Darurat Gunung Bromo Gde Suantika, ancaman terbatas di kaldera Bromo atau radius 3 km dari kawah.

Sejauh ini, masih belum diperlukan evakuasi dan aktivitas di ring I atau radius 3 km dari kawah masih normal. Kendati demikian, warga diminta tetap waspada. "Letusan yang terjadi sejak kemarin masih mungkin terjadi di hari-hari ke depan seperti pada letusan tahun 2000," tutur Gde
Hingga lima hari penetapan status Awas Gunung Bromo, warga sekitar Gunung Bromo, khususnya umat Hindu Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo terus-menerus menggelar ritual sembahyang di pura setempat. Dalam sembahyangan itu, masyarakat memohon keselamatan dan berharap kondisi Gunung Bromo segera membaik.

Aktivitas sembahyang berlangsung setiap malam hari sekitar pukul 19.00 di Pura Dusun Cemaralawang, Desa Ngadisari, Probolinggo. Selama aktivitas vulkanik Bromo meningkat, Kepala Desa Ngadisari Supoyo menghimbau warga untuk selalu besembahyang bersama.

Di saat kondisi Gunung Bromo seperti ini, saya menghimbau kepada warga agar tidak sekedar memikirkan kebutuhan material saja, tapi juga keselamatan. Semua itu titipan dari Yang Kuasa. Di saat prihatin seperti ini, semua harus rela, kata Supoyo sebelum ritual sembahyang digelar, Sabtu (27/11/2010) malam tadi di Dusun Cemaralawang, Ngadisari, Probolinggo, Jawa Timur .

Di Dusun Cemaralawang, Desa Ngadisari, Probolinggo terdapat 673 jiwa penduduk. Pemukiman warga hanya berjarak sekitar 3 kilometer dari puncak Gunung Bromo.

http://regional.kompas.com/read/2010/11/28/03070735/Warga.Ngadisari.Terus.Menerus.Sembahyang
http://regional.kompas.com/read/2010/11/27/18060817/Erupsi.Bromo.Berlangsung.Sepanjang.Hari.

Mati di Jalan lantaran Miras

Kapolda Maluku Brigjen Pol. Syarief Gunawan menegaskan, minuman keras (miras) merupakan salah satu penyakit masyarakat dan penyebab utama tingginya kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di daerah ini. "Data yang ada menunjukkan kebanyakan kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Maluku dikarenakan pengendara dalam keadaan mabuk minuman keras," katanya di Ambon, Sabtu (27/11/2010).

Kapolda juga menyatakan kebiasaan merayakan hari-hari raya besar keagamaan biasanya diwarnai perilaku mabuk-mabukan. "Biasanya banyak orang yang tidur di pinggiran jalan karena sudah mabuk miras saat merayakan hari raya besar keagamaan," ujarnya.

Berbagai kasus kejahatan lain, lanjutnya, pun salah satu faktor penyebabnya adalah kebiasaan mengonsumsi miras. "Pelaku kriminal umumnya minum (- miras) dulu untuk meningkatkan keberanian," katanya.

Untuk itu, kata Kapolda, pihaknya mengintensifkan operasi pekat. Salah satu fokusnya memberantas peredaran miras menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru mendatang. "Orang yang mengonsumsi miras berlebihan akan mabuk dan bisa melakukan tindakan tidak terkontrol yang merugikan orang lain maupun dirinya sendiri, dan pasti mengganggu ketentraman masyarakat," katanya.

Mantan Wakil Kepala Korps Brimob Mabes Polri ini juga mengungkapkan, peredaran miras tidak hanya di kalangan masyarakat, tetapi juga banyak dikonsumsi aparat keamanan. "Saya selalu mengimbau personil Polri yang bertugas agar tidak menjadi aparat yang keparat, artinya melakukan tindakan inkostitusional sebagai akibat di bawah pengaruh miras. Dan saya tidak segan-segan memberlakukan tindakan tegas terhadap anak buah yang melakukan pelanggaran," katanya.

Selain kebiasaan buruk mengonsumsi miras berlebihan, Kapolda menyebut penggunaan narkoba yang peredarannya tergolong marak di Ambon serta kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebagai bentuk penyakit masyarakat.

http://regional.kompas.com/read/2010/11/27/20451019/Mati.di.Jalan.lantaran.Miras

Saturday, November 27, 2010

Eks Pengungsi Merapi: makan ampas umbi Ganyong untuk bertahan hidup

Selama 10 hari warga Dusun Tritis, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, terpaksa harus makan ampas umbi Ganyong untuk bertahan hidup. Mereka makan ini sepulangnya dari pengungsian akibat letusan Gunung Merapi.

Menurut Gito Mingan (56), tokoh masyarakat Dusun Tritis, Boyolali, Rabu menjelaskan, warga setempat setelah pulang dari pengungsian terpaksa harus makan ampas umbi Ganyong yang dicampur nasi jagung karena tidak ada persediaan beras.

Warga Tritis yang berjarak sekitar delapan kilometer dari puncak Gunung Merapi, sempat mengungsi ke Taman Nasional Kridanggo, Boyolali saat terjadi letusan.

Namun, warga Tritis sebanyak 141 kepala keluarga tersebut kemudian diizinkan pulang ke rumah masing-masing setelah radius bahaya dipersempit.

“Warga sudah kembali pulang ke rumah masing-masing tanggal 14 November 2010. Kami saat sesampai di rumah, yang tersisa hanya ampas umbi Ganyong dan jagung,” kata Gito.

Menurut Gito, umbi Ganyong yang masih di ladang dipanen dan ditumbuk hingga halus. Setelah itu, sari Ganyong diambil dapat dijual, tetapi ampasnya dimasak, yakni dicampur dengan jagung.

“Buat kami, yang penting perut dapat kenyang dan dapat beraktivitas di kebun,” kata Gito.

Prapto Marjo (55) warga setempat lainnya menjelaskan, sari atau pati umbi Ganyong dapat dijual dengan harga Rp3.000 per kilogram. Sari ganyong ini dapat dibuat kerupuk rambak.

Meskipun warga di dusun terpencil di kaki Gunung Merbabu makan ampas umbi Ganyong, tetapi mereka semuanya dapat bertahan dan dalam kondisi sehat.

Martono, Ketua RT16/RW3 Dusun Tritis membenarkan warganya banyak makan ampas umbi Ganyong karena mereka tidak mempunyai persediaan beras.

Martono mengakui, dusunnya ini memang belum banyak tersentuh bantuan, sehingga warga makan apa adanya yang tersedia di rumah.

Oleh karena itu, pihaknya mengharapkan bantuan dari pemerintah mengenai jatah hidup bagi warga yang sudah diizinkan pulang dari pengungsian.

“Kami harapkan jatah hidup segera disalurkan, karena warga tidak mendapatkan penghasilkan setelah mengungsi dan harus menunggu tiga hingga empat bulan dari hasil panen ladangnya,” katanya

http://www.surya.co.id/2010/11/27/terpaksa-makan-ampas-umbi-ganyong.html


sapi korban merapi hanya dibeli separuh harga

Janji pemerintah untuk membeli hewan ternak korban Merapi tak sesuai dengan harapan. Terbukti hewan ternak mereka hanya dibeli dengan separuh harga. Alhasil, petani banyak yang merugi.

Sebagian besar warga korban letusan Merapi menyayangkan sikap pemerintah yang tak konsisten untuk membeli harga ternak mereka sesuai dengan ketentuannya. Hingga saat ini, pembelian ternak oleh pemerintah sangat mengecewakan warga.

Contohnya yang dialami warga di Desa Batur, Magelang. Mereka mengaku sangat terpukul karena setiap ekor ternak sapi yang dijual menyebabkan rugi hingga Rp 4 juta. Seperti yang disampaikan Sumitro. Jika sebelumnya satu ekor sapi bisa laku Rp 8 juta, setelah terkena dampak letusan Merapi hanya dihargai Rp 4 juta. Kalau pun petani mempertahankan ternak untuk tak dijual, mereka harus beli pakan ternak per unitnya Rp 10 ribu.

Warga berharap, pemerintah mengganti kerugian petani yang sudah terlanjur menjual ternak-ternaknya. Selain itu, pemerintah juga diminta memberikan bantuan modal agar mereka bisa bertahan hidup dengan kondisi yang saat ini tak punya apa-apa lagi.

http://www.surya.co.id/2010/11/27/sapi-korban-merapi-hanya-dibeli-separuh-harga.html

Pengumuman : Lokalisasi Prostitusi Buk Tape Ngadilangkung Malang Ditutup

Tamat sudah riwayat lokalisasi prostitusi Ngadilangkung di Kabupaten Malang. Tanpa kekerasan, demonstrasi atau protes penghuninya, kompleks yang juga disebut Buk Tape ini, Jumat (26/11), ditutup pemerintah. Usaha menutup tempat hiburan para hidung belang ini dilakukan sejak 1979.

Enam pria berjalan menuju kompleks Buk Tape. Namun, sampai di gerbang mereka terkejut ketika membaca kalimat di sebuah poster yang ditempel di pintu masuk, Lokalisasi WTS Desa Ngadilangkung Ditutup Selamanya. Tulisan yang sama ditempel di beberapa sudut lokalisasi yang terletak di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang itu.

“Lho, kok tutup? Saya tidak tahu hari ini ditutup,” kata salah satu dari para pria itu.

Pantas mereka tidak mendengar apa-apa sebelumnya. Penutupan Buk Tape berjalan damai. Pemkab Malang sukses mengantar penutupan itu tanpa gejolak. Melalui rangkaian panjang pertemuan dengan Pemkab, para mucikari sepakat menutup wismanya untuk kegiatan prostitusi paling lambat, 25 November 2010.

Kemarin, petugas Satpol PP nampak menurunkan neon sign nama wisna yang disponsori merek kondom terkenal. Petugas juga blusukan ke dalam wisma untuk memastikan tidak ada aktivitas di dalamnya.

Beberapa pemilik wisma sudah mengantisipasi. Kasur-kasur dan bantal kapuk yang sudah tipis ditumpuk di depan wisma seolah menjadi bukti tidak ada aktivitas intim di dalam wisma. “Sesuai kesepakatan kemarin (26/11), kami menutup tempat ini untuk PSK. Apalagi tempat ini juga berada di tengah pemukiman,” jelas Bambang Sumantri, Kepala Satpol PP Kabupaten Malang ketika memberitahu sejumlah pemilik wisma.

Meski jelas merugi, pemilik wisma pasrah. Namun Bambang sempat meyakinkan mereka bahwa pemerintah tidak diam saja karena dinas teknis pasti membantu jika mereka mau dibina, seperti lewat Dinsos, Disnakertrans atau Dinas Koperasi dan UMKM. “Pemkab akan welcome jika mereka (PSK) mau dilatih agar mendapatkan penghasilan yang halal. Kalau sudah ditutup, tolong tidak ada praktik terselubung,” tandas Bambang.

Terakhir sebelum ditutup, di Buk Tape tinggal 24 wisma dengan 60 PSK. Setiap wisma biasanya memiliki kamar antara 3-6 kamar. Beda dengan umumnya lokalisasi, para PSK ini tidak menetap di wisma itu. Mereka yang rata-rata berusia 21-45 tahun ini hanya ‘ngantor’ di wisma sejak pagi hingga sore.

Dari 60 PSK itu, sebanyak 80 persen merupakan warga Kabupaten Malang dan sisanya warga Kabupaten Blitar dan Kota Malang dan hanya datang untuk berpraktik. Dalam bisnis ini, pemilik wisma mendapat Rp 10.000 dari satu transaksi.

“Kalau sedang ramai, hanya mendapat Rp 50.000,” kata Sri, salah satu pemilik wisma. Kalau sepi, ia mengandalkan dua anaknya yang bekerja di pabrik rokok dan tukang parkir.

Nanang, Koordinator Lokalisasi Buk Tape menambahkan, aktivitas di situ sudah tidak ada sejak, Senin (22/11). “Soal nanti dari kami akan ada yang dilatih keterampilan lain, kami juga senang karena bisa mendapat penghasilan baru,” kata Nanang.

Kades Ngadilangkung, Abdul Majid, juga berjanji mendekati salah satu pabrik rokok ternama di sekitar situ agar bisa memanfaatkan eks wisma itu untuk kos karyawan. “Ini kan dalam rangka mencari solusi, karena kebetulan ini kan lingkungan pabrik,” kata kades muda ini.

Ia menjelaskan, setelah keputusan penutupan Buk Tape, jumlah PSK menurun. “Kalau biasanya 60 PSK, akhirnya tinggal 42 PSK. Jumlah pengunjung pun turun. Ini bisa dilihat dari jumlah motor yang parkir. Biasanya sehari 150 motor, tinggal 80 motor,” ungkap Nanang.

Bupati Malang Rendra Kresna mengakui, ada dilema ketika memutuskan penutupan Buk Tape, misalnya soal kesehatan yang tidak terpantau bila PSK menjadi liar.

“Kalau ternyata ada yang penyakitan dan menularkan ke orang lain, bagaimana? Tapi penutupan harus dilakukan,” tegas Rendra kemarin.

Sebelumnya, PCNU Kabupaten Malang bersedia membimbing para PSK di pondok-pondok pesantren. Sekretaris PCNU Kabupaten Malang, Abdul Mujib Syadzili, mengatakan, pihaknya juga siap bekerja sama dengan Dinas Sosial. “Mereka diberi pelatihan mengaji. Kalau dibiarkan, mereka bisa kembali jadi PSK,” ungkap Gus Mujib.

Menurut cerita, Buk Tape menjadi sebutan karena di pintu gerbang (buk) desa itu dulu banyak penjual tape. Mereka mangkal di situ atau menunggu angkutan yang membawa mereka ke tempat jualan.

Penutupan Buk Tape sebenarnya sudah digagas sejak 1979, ketika Bupati Suwignyo menerbitkan surat keputusan penutupan. Namun praktik prostitusi itu tidak bisa dihentikan. Pada 1994, Bupati Abdul Hamid bertindak, namun lagi-lagi gagal. Pada 1997, lokalisasi ini mencapai kejayaan karena menampung ratusan pekerja seks. Namun, pada 1999, warga marah, dan sempat akan membakar lokalisasi ini.

Pada 2006, sejumlah anggota DPRD Kabupaten Malang getol menyosialisasikan penutupan Buk Tape lagi, saat angka pengidap HIV AIDS meroket. Kini, di awal pemerintahan Rendra Kresna, tempat tersebut akhirnya resmi ditutup.

Kepala Bagian Humas Pemkab Malang Suroto mengatakan, penutupan paksa tersebut dilakukan karena kawasan tersebut akan ditata ulang dan dijadikan pusat kota (ibu kota) wilayah Kabupaten Malang.

“Sengaja kami lakukan penutupan paksa, sebab lokalisasi yang berada di Desa Ngadilakung sudah masuk Ibu Kota Kabupaten Malang, dan juga sebagai rangkaian rencana penataan Kota Kepanjen,” kata Suroto ditemui usai melakukan operasi penutupan di Pendopo Kabupaten Malang.

Ia menjelaskan, penutupan tersebut dilakukan oleh aparat gabungan yang terdiri dari Satpol PP, Polsek Kepanjen dan Koramil. “Ada sekitar 70 orang gabungan yang diterjunkan dalam penutupan ini,” katanya.

Selain itu, penutupan ini juga dilakukan terkait adanya keluhan warga di sekitar lokalisasi yang terganggu dengan adanya sktivitas lokalisasi tersebut. “Penutupan ini merespons keluhan masyarakat yang merasa terganggu oleh operasional lokalisasi di tengah permukiman tersebut,” kata Suroto.

Kepala Satpol PP Kabupaten Malang, Bambang Sumantri mengatakan, dalam penutupan paksa tersebut tidak ada perlawanan dari para Pekerja Seks Komersial (PSK), sebab saat dilakukan operasi penutupan tidak ada satu pun PSK yang berada di tempat. Sementara itu berdasarkan data Pemkab Malang, total PSK yang berada di tempat tersebut mencapai 73 orang dan 28 mucikari. “Kami tidak tahu kemana mereka saat ditutup,” kata Bambang.

http://www.surya.co.id/2010/11/27/setelah-31-tahun-lokalisasi-buk-tape-kepanjen-akhirnya-ditutup.html

Friday, November 26, 2010

Pengusaha Taiwan Sumbang Rp3.3 Miliar untuk Merapi

Masyarakat dan lembaga kemanusiaan Taiwan maupun komunitas pebisnis Taiwan di Indonesia menyalurkan uang sebesar 370 ribu dollar AS atau sekitar Rp3,3 miliar kepada pemerintah untuk korban Gunung Merapi di DI Yogyakarta.

Sebanyak 25 ribu dollar AS dari jumlah tersebut disalurkan oleh Taipei Economic and Trade Office (TETO) di Indonesia melalui Wahana Visi Indonesia, kata Charles Li, Deputy Representative TETO saat menyerahkan bantuan itu di Jakarta, Jumat.

"Sebagai bagian komunitas dunia dan sahabat lama Indonesia, Taiwan tidak pernah absen mendukung masyarakat terdampak setiap kali bencana menimpa Indonesia," katanya.

Ia menjelaskan, besarnya intensitas dan dampak letusan Merapi telah menggerakkan masyarakat dan pemerintah Taiwan untuk membantu meringankan beban masyarakat dan anak-anak terdampak.

Ia menambahkan, dari jumlah tersebut, terdapat bantuan sebesar 50 ribu dollar AS yang disumbangkan oleh masyarakat Taiwan melalui World Vision Taiwan, kemudian dikelola oleh World Vision Indonesia untuk program tanggap darurat Merapi.

Sementara itu, Operations Director Nasional World Vision Indonesia, Amelia Merrick, menambahkan World Vision sangat menghargai kepedulian masyarakat Taiwan untuk Indonesia.

Semangat berbagi dan membantu sesama adalah hal positif yang harusnya tumbuh subur agar kita bisa hidup bersama secara seimbang dan harmonis.

"World Vision Indonesia telah memperluas cakupan dan memperpanjang durasi tanggap bencana di menjadi tiga bulan, menyusul meningkatnya aktivitas gunung Merapi yang menyebabkan enam kabupaten dan kota serta sekitar 4 juta populasi ikut terdampak," ujarnya.

Komitmen ini sejalan dengan diumumkannya letusan Merapi sebagai Bencana Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan memberi kesempatan bantuan Internasional dalam tahap rekonstruksi dan rehabilitasi.

"Kami membutuhkan dana sebesar 1,5 juta dollar AS (setara 14 miliar rupiah), untuk menjalankan program tanggap bencana dan recovery, dengan fokus pada program perlindungan anak, kesehatan, perbaikan ekonomi, dan air bersih serta sanitasi," tambah Amelia.

Untuk memenuhinya, World Vision partnership di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia melalui mitranya Wahana Visi Indonesia, berupaya keras menggalang dukungan dan kerja sama dengan berbagai pihak.

Taiwan telah menjadi pendukung aktif dan penting dalam upaya tanggap darurat di Indonesia, dan setelah tsunami Aceh tahun 2004, gempa Jogyakarta tahun 2006 dan gempa Padang tahun 2009, Pemerintah Taiwan serta lembaga kemanusiaan di Taiwan kembali menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana Merapi.

Menurut dia, sebelum Merapi meletus, tim assessment World Vision Indonesia sudah hadir di lokasi, dan mendistribusikan 2.450 paket bantuan keluarga, 1.000 paket bantuan anak, 39.000 masker, 5.500 masker anak, 750 wadah air elastis, 1.200 alas tidur dan mengoperasikan 2 perpustakaan mobil atau Mobil Sahabat Anak di beberapa pusat evakuasi di Sleman
http://erabaru.net/nasional/50-jakarta/20291-pengusaha-taiwan-sumbang-rp33-miliar-untuk-merapi

20 Pasangan Kencan Terjaring di Pantai Glagah


Sebanyak 20 pasangan kencan terjaring dalam razia Polres Kulon Progo di penginapan sepanjang Pantai Glagah, Kulon Progo, Kamis (25/11). Pasangan-pasangan itu kemudian dibawa ke Mapolres.

Wakapolres Kulon Progo, Kompol Aap Sinwan Yasin, mengatakan, operasi tersebut merupakan bagian dari Operasi Kilat Progo yang digelar sejak 8 November lalu. Operasi Kilat Progo sendiri dilaksanakan dalam rangka 100 hari pertama masa jabatan Kapolri yang baru.

“Tadi terjaring 20 pasangan teman kencan di sepanjang penginapan di Pantai Glagah, razia kami lakukan di empat tempat,” kata Aap Sinwan.

Sesampainya di Mapolres, pelaku didata dan diberikan pembinaan. Sebagian besar dari mereka datang ke pantai di Kecamatan Temon itu dengan mengendarai sepeda motor. Mayoritas sepeda motor tersebut bernomor polisi Kedu dan DIY.

Menurut Aap, selain pembinaan, jika ditemukan adanya tindak pidana dari para pelaku yang terjaring tersebut maka akan diproses lebih lanjut sesuai dengan laporan yang ada. “Kalau pembinaan yang dilakukan, bagi pelajar orang tuanya akan kami panggil. Sedangkan bagi yang umum kita beri pembinaan secara langsung karena ini terkait bagaimana pertanggungjawaban mereka,” jelasnya.

Dengan banyak ditemukannya pasangan tak resmi yang berkencan di penginapan di Pantai Glagah tersebut, Polres Kulon Progo berencana menyampaikannya pada Pemerintah Kabupaten (Pemkab). Menurut Aap, hal itu perlu ditindaklanjuti agar tidak merusak citra pariwisata di Kabupaten Kulon Progo.

Aap Sinwan menambahkan, operasi Kilat Progo akan digelar selama 100 hari hingga Januari 2011. Sasarannya memberantas kejahatan dan penyakit masyarakat (pekat). Termasuk di dalamnya operasi terhadap premanisme, kejahatan jalanan, narkoba, perjudian, korupsi, dan perdagangan manusia. “Ini merupakan bagian dari program Kapolri, selama 100 hari pertama masa jabatan,” tandasnya

Dinilai Melecehkan Kiai, Manten Kucing Dikecam


Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tulungagung, Jawa Timur, mengecam Festival Manten Kucing yang digelar pemerintah daerah setempat sebagai salah satu kegiatan memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-805 Kabupaten Tulungagung.

“Bagaimana mungkin pemerintah memfasilitasi kegiatan yang berbau syirik dan melukai hati umat Islam. Masak, kucing dinikahkan layaknya menikahkan manusia secara Islam, apalagi disertai ijab qobul dan diiringi sholawat hadrah segala,” kata Wakil Ketua Cabang MUI, Maskur Kholil, Kamis (25/11).

Ia menegaskan, ritual atau Festival Manten Kucing yang diikuti 19 kecamatan se-Tulungagung beberapa waktu lalu telah melecehkan kiai dan menodai agama.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fatah Mangunsari Kedungwaru itu menjelaskan, yang menjadi sorotan MUI adalah penampilan sosok kiai yang menikahkan kucing layaknya perkawinan manusia.

“Siapa pun boleh mengembangkan budaya. Tapi jangan sekali-kali mencampuradukan agama dengan budaya, itu (manten kucing) sama artinya melecehkan kiai,” ujarnya.

Kecaman serupa juga dilontarkan Sekretaris MUI, Abu Sofyan Sirojuddin.

Menurut dia, pemerintah daerah dan Bupati Heru Tjahjono tidak menghiraukan peringatan MUI sebelum kegiatan, yang tertuang dalam surat bernomor 115/DP-Kab/MUI-TA/2010.

Padahal, surat itu disampaikan secara resmi dan ditandatangani langsung oleh ketua MUI KH Hadi Mahfud tertanggal 9 November. Ternyata peringatan itu tidak diindahkan dengan tetap menggelar festival dengan menampilkan seperti sosok kiai.

“Kami sudah jauh-jauh hari melayangkan surat peringatan, tapi surat itu dianggap angin lalu,” kata salah satu ulama paling berpengaruh di Kota Marmer itu kecewa.

Dikonfirmasi terpisah, Bupati Heru Tjahjono setelah parade dakon masuk MURI mengatakan, pihaknya menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat Tulungagung.

Ia berjanji, kegiatan yang bisa menimbulkan kontoversi di masyarakat dan kalangan ulama tidak akan digelar lagi pada tahun-tahun mendatang. “Kami minta maaf,” kata Bupati.

Festival Manten Kucing sendiri berasal dari ritual serupa yang biasa digelar di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, namun kemasan ritual itu hanyalah berupa prosesi pemandian sepasang kucing yang secara simbolis dijodohkan di sebuah sumber mata air setempat yang disebut Coban Kromo. Tradisi itu dilakukan warga Desa Pelem ketika sedang kesulitan air. Suatu perbuatan syirik yang layak untuk dihapuskan.



http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/11/25/71479/Dinilai-Syirik-Manten-Kucing-Dikecam

Cabuli Pengungsi, Pemuda Dimassa

Apa yang dilakukan Solichin (18), warga Dusun Srumbung Krajan, Desa Srumbung, Kecamatan Srumbung ini sungguh tak patut ditiru. Ia mencabuli seorang pengungsi yang baru berusia 17 tahun. Kasus pencabulan ini dilakukan di rumah korban Melati Putih di Dusun Gowok, Desa Sewukan, Kecamatan Dukun. Desa ini hanya berjarak kurang dari 10 km dari puncak Merapi sehingga warga harus mengungsi.

Solichin bersama keluarganya mengungsi ke TPS Balai Desa Rambeanak, Kecamatan Mungkid sementara Melati Putih mengungsi ke TPS Lapangan Tembak di Desa Plempungan, Kecamatan Salam.

Hal ini membuat Solichin yang memendam cinta kepada Melati Putih terpisah jarak dan waktu. Untuk membina hubungan Solichin rajin berkirim pesan pendek atau SMS. Karena sudah tak kuat menahan rindu, Solichin mengajak korban untuk bertemu di rumah korban. Solichin datang dengan diantar ASB (17), tetangga korban.

Setelah bertemu, kedua sejoli yang dimabuk asmara ini kemudian mengobrol di teras rumah. Setelah itu, Solichin meminta temannya untuk pergi membeli rokok. Kesempatan ini ia manfaatkan untuk merayu Melati. Keduanya kemudian masuk ke dalam kamar.

Solichin yang sempat "mesum" dengan korban kaget karena tiba-tiba, Sukirman, ayah korban pulang dari pengungsian untuk memberi makan ternak. Sukirman menyeret Solichin keluar kamar dan kemudian menghajarnya di teras rumah. Solichin yang ketakutan berteriak teriak minta tolong. Namun teriakan ini justru membuat belasan warga yang tengah pulang dari pengungsian ikut menghajar pelaku.

Sebelum kejadian buruk berlanjut, Solichin diamankan oleh petugas hansip. Bersama ASB ia kemudian melarikan diri ke Kecamatan Srumbung. Namun ternyata belasan tetangga korban yang marah ikut mengejar sampai Srumbung.

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/11/25/71448/Cabuli-Pengungsi-Pemuda-Dimassa

Bosan di Pengungsian, Nekad Pulang

Meski kebutuhan konsumsi dipenuhi pemerintah, tetapi hidup di pengungsian dirasakan membosankan. Mereka nekad pulang meski rumahnya berada di wilayah bahaya Merapi.

Alasannya rata-rata ingin kembali bekerja agar bisa mendapatkan penghasilan. "Saya buruh tani. Saya harus bekerja untuk mendapatkan uang, untuk bekal anak-anak sekolah," kata Umi, warga Sewukan, Dukun, Magelang, Kamis (25/11).

Saat Merapi erupsi, dia bersama tetangganya mengungsi di wilayah Mertoyudan. Tetapi karena menyadari selama dipengungsian tidak ada pemasukan, ibu dua anak itu nekad pulang ke desanya yang letaknya tinggal delapan kilo meter sampai puncak merapi.

Umi langsung memperoleh pekerjaan dari tetangganya, yakni membersihkan padi dan sayuran yang kotor, akibat disiram hujan abu vulkanik dari Gunung Merapi.

Sartini, menyatakan bosan mengandalkan pemberian petugas di penampungan pengungsi. Ia nekad pulang ke rumahnya di Paten, Dukun, yang letaknya enam kilo meter drai puncak Gunung Merapi.

Perempuan itu mengaku tindakannya dilarang oleh petugas posko, karena Paten termasuk rawan bahaya. Tetapi tekadnya bulat. Karena itu beresiko tidak mendapatkan pemberian bekal logistik saat pulang. "Kabarnya, sisa logistik akan dibagikan setelah masa tanggap darurat berakhir," tuturnya.

Seperti diberitakan kemarin, masa tanggap darurat diperpanjang dua minggu ke depan.

Yang dilakukan Sartini, membersihkan rumahnya. Kemudian menengok kebun cabenya yang rusak parah dan tak bisa dipanen sedikitpun. Akhirnya dia sekeluarga makan seadanya.

Rohani, warga Desa Sengi, Kecamatan Dukun, mengandalkan makan dari pemberian bantuan posko di Dusun Candi Tengah. “Tanaman sayur mayur mati. Tiap hari kami makan mi instan,” katanya.

Sementara itu jumlah warga yang masih bertahan di barak pengungsi, menurut data di Posko Induk Penanggulangan Bencana Kabupaten Magelang, Kamis (25/11), masih 28.074 orang. Sedangkan yang berada di daerah lain, 6.905 orang.

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/11/26/71487/Bosan-di-Pengungsian-Nekad-Pulang

Thursday, November 25, 2010

Curi Bantuan Merapi, Perangkat Desa Ditangkap


Polres Magelang menangkap seorang perangkat Desa Gulon, Kecamatan Salam karena diduga menggelapkan barang logistik untuk pengungsi. Ia tertangkap tangan setelah dikuntit polisi.

Menurut Kasat Reskrim AKP Slamet Riyadi, tersangka R Heri Soesanto ditangkap Kamis dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Ia ditangkap saat pulang dari Balai Desa Gulon yang menjadi Posko Pengungsian menuju rumahnya di RT 05/RW 01 Gulon.

TPS Balai Desa Gulon selama ini digunakan untuk mengungsi ribuan warga korban letusan Gunung Merapi dari Desa Ngargosoko, Pandanretno, dan Polengan, Kecamatan Srumbung. Penangkapan ini berdasarkan informasi yang diterima petugas di lapangan.

”Kami mendapat laporan ada perangkat yang sering membawa pulang bantuan logistik untuk pengungsi,’’ kata AKP Slamet Riyadi, Kamis (25/11). Informasi dari pengungsi dan warga ini kemudian ditindaklanjuti polisi dengan melakukan penyidikan. Setelah diawasi beberapa hari ternyata tersangka kedapatan membawa barang logistik.

Ia pun tertangkap tangan dengan sejumlah barang bukti seperti minyak goreng tiga jeriken, beberapa karung beras kemasan, dan bawang putih empat kilogram. Barang-barang tersebut dibawa dengan menggunakan mobil Honda Accord berwarna putih bernopol AB 8180 GA. ”Tersangka kami tangkap saat hendak masuk ke rumah. Di dalam mobil kami temukan barang-barang yang dicurigai,” katanya.

Petugas kemudian melakukan penggeledahan di dalam rumah tersangka dan menemukan sejumlah barang bukti, antara lain tiga lembar bad cover, susu bubuk, teh, sikat gigi, dan pasta gigi. Menurut dia, modus yang dilakukan pelaku adalah menunggu relawan dan pengungsi tertidur. Ia melakukan aksinya pada malam hari atau dini hari.

”Berdasarkan pengakuannya, dia baru melakukan aksi tersebut sebanyak tiga kali. Namun kami akan selidiki lebih lanjut,” katanya.

R Heri Soesanto mengaku tak kesulitan untuk membawa pulang barang-barang bantuan itu. Sehari-hari dia memang bertugas membantu dan mengurus kebutuhan pengungsi. ‘’Saya setiap hari memang bertugas membantu pengungsi. Tak ada yang tahu saya mengambil dari gudang,’’ jelas dia.

Dia beralasan barang bantuan tersebut bukan untuk dirinya namun akan dibagikan kembali pada warga desa yang membutuhkan. Menurut dia, tidak hanya pengungsi yang membutuhkan, banyak Desa Gulon juga membutuhkan bantuan, namun tidak ada alokasi bantuan dari pemerintah.

Tak Dapat Bantuan

Ia menyayangkan hanya korban Merapi yang menjadi pengungsi yang mendapat bantuan pemerintah. Sementara warga yang tak mengungsi tidak mendapat bantuan. ‘’Padahal mereka sama-sama korban Merapi dan butuh bantuan,’’ kata dia.

Rencananya, setelah barang-barang itu terkumpul akan dia bagikan pada 40 kepala keluarga di sekitar rumahnya. Namun belum sempat dibagikan aksi R Heri Soesanto terlebih dulu ketahuan polisi, sehingga harus meringkuk di balik jeruji besi.

Tersangka ditahan di Markas Polres Magelang dan akan dijerat pasal 363 tentang pencurian atau 374 tentang penggelapan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Mobil pribadi dan barang-barang curian sudah disita untuk barang bukti. ‘’Jika terbukti tersangka terancam hukuman maksimal 4 hingga 5 tahun penjara. Kasus ini akan kami kembangkan agar menjadi pelajaran masyarakat,’’kata dia.

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/11/26/71491/Perangkat-Gelapkan-Logistik-Pengungsi
http://foto.detik.com/readfoto/2010/11/25/161309/1502381/157/1/curi-bantuan-merapi-perangkat-desa-ditangkap

galang bantuan Merapi, ibu rumah tangga jalan kaki Kediri-Jogja

Din Setyaningrum (40), ibu rumah tangga asal Kediri, Jatim dan pendukung kesebelasan Persik Kediri, berjalan kaki dari Kediri menunju Sta dion Maguwoharjo, Sleman, DIY, untuk menggalang bantuan korban letusan Merapi.

Ibu rumah tangga yang tinggal di Perumahan Permata Hijau Blok L No.5, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur ini berangkat dari halaman Balai Kota Kediri pada 10 November dengan dilepas langsung Wakil Walikota Kediri Abdulah Abubakar dan tiba di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Kamis (25/11/2010) siang sekitar pukul 11.30 WIB.

Saat memasuki Stadion Maguwoharjo, Din Setyaningrum yang dikawal kelompok suporter PSS Slemania ini langsung disambut kelompok kesenian Jaranan Wahyu Krida Budaya, yang juga datang dari Kota Kediri untuk menghibur para pengungsi.

Setyaningrum langsung diterima Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Sleman Kriswanto yang langsung memeluknya serta disambut tepuk tangan dari ribuan pengungsi yang ada di Stadion Maguwoharjo.

"Selama berjalan, saya berhasil menghimpun dana dari masyarakat mulai dari Kediri sampai Klaten dengan total lebih dari Rp 2 juta," kata Din Setyaningrum.

Dana yang terkumpul tersebut langsung diserahkan kepada para pengungsi melalui Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Sleman.

"Hanya ini yang bisa kami lakukan, kami juga ingin ikut merasakan penderitaan saudara-saudara kami yang menjadi korban bencana letusan Gunung Merapi. Kami harapkan saudara-saudaraku pengungsi dapat segera melupakan kejadian yang membuat kita semua berduka dan segera bangkit penuh semangat untuk memulai hidup baru," kata Din Setyaningrum terbata-bata sambil sesekali mengusap air matanya.

Ungkapan tulus dari Din Setyaningrum ini juga membuat semua yang hadir dalam penyambutan tersebut tampak tak kuasa membendung air mata.

Bahkan Kriswanto dan sebagian besar pengungsi maupun masyarakat yang berada di sisi utara timur Stadion Maguwoharjo tersebut menitikkan air mata.

"Saya sungguh berterimakasih dan sama sekali tidak mengira bahwa sambutan dari warga Sleman sedermikian besar, sungguh dari hati saya hanya ingin ikut merasakan penderitaan saudara-saudara yang harus mengungsi akibat bencana, saya juga mohon maaf jika dana yang terkumpul selama dalam perjalanan ini jumlahnya tidak seberapa, namun yang jelas hanya ini yang bisa saya lakukan," kata Din Setyaningrum.

Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Sleman Kriswanto dalam kesempatan tersebut mengucapkan terimakasih yang sedemikian besar atas kepedulian yang luar biasa dari Din Setyaningrum ini.

"Sungguh ini sangat luar biasa, semoga ini dapat menggugah semangat para pengungsi untuk segera bangkit kembali," katanya.

Rumah Mbah Maridjan Dijadikan Monumen


Pemerintah Kabupaten Sleman, DIY, merencanakan menjadikan rumah kediaman juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan, di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, sebagai monumen erupsi gunung itu.

"Dusun Kinahrejo yang berjarak sekitar 5 kilometer dari puncak Merapi luluh lantak diterjang awan panas saat erupsi gunung ini pada 26 Oktober 2010, dan Mbah Maridjan beserta sejumlah warga dusun setempat ikut tewas," kata Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata (Disbudpar) Sleman Shavitri Nurmala Dewi, di Yogyakarta, Rabu (24/11/2010).

Seusai dialog tentang pemulihan pariwisata DIY di Gedung PWI Yogyakarta, ia mengatakan, wacana membangun rumah Mbah Maridjan sebagai monumen erupsi Gunung Merapi dapat direalisasikan jika gunung itu sudah aman dan kondusif.

"Meskipun demikian, kami dalam merealisasikan pembangunan monumen tersebut tetap berkoordinasi dengan instansi yang berkompeten, di antaranya Pemerintah Provinsi DIY serta Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta," katanya.

Menurut dia, pembangunan monumen tetap memerhatikan asas keselamatan bagi masyarakat yang akan mengunjungi tempat itu, dan aktivitas gunung direkomendasikan sudah aman meskipun Dusun Kinahrejo nantinya dinyatakan sebagai zona bahaya dan tidak menjadi permukiman.

Dengan demikian, jika monumen tersebut dapat direalisasikan, nantinya masyarakat hanya boleh berada di monumen itu hanya beberapa jam, dan mereka kemudian harus segera meninggalkan tempat tersebut.

Ia mengatakan, instansinya kini berupaya meminta izin penggunaan rumah Mbah Maridjan sebagai monumen erupsi Gunung Merapi kepada keluarga almarhum juru kunci Merapi itu.

"Kami menunggu kepastian izin dari keluarga almarhum Mbah Maridjan agar rumahnya boleh digunakan sebagai monumen. Sebagian bangunan rumah Mbah Maridjan masih utuh sehingga tidak perlu banyak membangun," katanya.

Mengenai sumber dana pembangunan monumen tersebut, ia mengatakan, diharapkan dari APBD Kabupaten Sleman dan dipersilakan jika ada pihak swasta yang ingin berpartisipasi. "Kami terbuka untuk menerima partisipasi dari swasta untuk bersama-sama membangun monumen erupsi Gunung Merapi," katanya

Note: foto diatas adalah kondisi terakhir desa kinahrejo, saya koq tidak lagi melihat rumah mbah Marijan, P Udi, Asih, masjidnyapun tinggal temboknya yg tersisa.... Bu pejabat mungkin perlu survai ulang ke sana...

http://regional.kompas.com/read/2010/11/24/21214186/Rumah.Mbah.Maridjan.Dijadikan.Monumen

Wednesday, November 24, 2010

Boyolali : warga menghentikan paksa truk logistik

Aksi penghentian truk logistik di sejumlah titik di lereng Merapi mendatangkan rasa trauma mendalam bagi para relawan yang hendak mengirim bantuan. Mereka memilih menurunkan bantuan di posko darurat Desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali. Mereka tidak berani masuk ke pedalaman, khawatir bantuan tidak sampai sasaran ke tangan korban Merapi. Sementara di Kota Magelang, pengungsi membakar bantuan pakaian bekas . Edy Nirmolo, salah satu relawan dari Kota Boyolali mengatakan, beberapa hari terakhir ini mengirim bantuan sembako dan daging kurban ke ratusan korban Merapi. Seluruh bantuan itu diturunkan di posko darurat di Desa Samiran. Lokasinya berada di dekat kota Kecamatan Selo, sehingga jauh dari aksi perampasan dari warga.

Aksi penghentian paksa truk logistik ini terjadi di sepanjang jalan Desa Jrakah dan Klakah. Sebagian warga menghentikan paksa truk logistik lantaran berdalih tidak memiliki bekal selama pulang dari pengungsian. Pengiriman logistik sejumlah relawan pun tidak bisa menembus daerah sasaran. "Saya turunkan di Samiran. Agar relawan khusus di lereng Merapi yang membagikan rata," kata Edy kemarin (21/11).

Dia mengatakan, warga lereng Merapi mengalami krisis pangan. Hal ini terjadi lantaran ditinggal mengungsi sekitar 20 hari. Warga lereng Merapi ini semula mengungsi di Kota Boyolali, setelah aktivitas Merapi dinilai aman, mereka kembali ke rumah masing-masing.

Setiba di rumah, warga tidak memiliki bekal makanan sama sekali. Ingin bangkit dari keterpurukan ekonomi pun dinilai sangat sulit lantaran perkebunan mereka ludes terkena material vulkanik. "Warga membutuhkan waktu tidak singkat supaya bangkit dari keterpurukan," kata dia.

Haryoko, relawan lain mengatakan, bantuan logistik dari masyarakat diturunkan di Desa Gedangan dan Wonodoyo, Kecamatan Cepogo, bukan ke Selo yang dilaporkan rawan terjadi sabotase di tengah jalan. Mereka memilih menurunkan bantuan di Cepogo lantaran masih banyak warga yang kekurangan. "Kami mendapat laporan warga banyak yang tidak bisa masak karena kehabisan beras," terangnya.

Menyiasati agar tidak terjadi penjarahan di tengah jalan, relawan berkoordinasi terlebih dulu dengan perangkat desa setempat. Misalnya, bantuan logistik tidak untuk warga di pinggir jalan Selo-Magelang, perangkat desa melarang penghentian truk logistik. Hari berikutnya, relawan baru menurunkan logistik ke daerah tersebut.

Sementara itu, kekurangan makan ini diakui Kepala Desa (Kades) Jrakah Tumar. Dia mengatakan, selama di rumah, warga belum tersentuh bantuan logistik dari pemerintah setempat. Warga terpaksa memakan seadanya hasil bumi, seperti ubi jalar, dan jagung. "Sebetulnya sudah mengajukan permohonan ke Pemkab, tapi tidak kunjung disalurkan," katanya.

Penyaluran bantuan logistik di lereng Merapi sebelah atas ini memang belum dilakukan. Sebab, Pemkab berdalih lereng Merapi masih termasuk kawasan rawan bencana (KRB) III bencana Merapi. "Kami akan berikan bantuan jatah hidup bila kondisinya memang sudah normal," terangnya.

Sementara itu, di Kota Magelang dilaporkan terjadi aksi pembakaran pakaian bekas oleh pengungsi, tepatnya di Alun-alun, kemarin sore. Pengungsi dari Dusun Keron, Kronggahan, Sawangan, Kabupaten Magelang merasa tidak butuh lagi pakaian bekas. Karena mereka telah kembali ke rumah dan mempunyai pakaian yang relatif lebih bagus.

"Saat di pengungsian, kami memang butuh baju, karena tidak membawa pakaian. Tapi ketika situasi mulai normal, ternyata masih saja dikirimi baju. Bahkan sampai delapan karung besar. Setelah dibuka, ternyata banyak yang sobek-sobek dan tidak layak pakai. Daripada membikin penuh dan kotor, maka lebih baik kita bakar saja," kata penanggung jawab aksi dari Dusun Keron, Agung Nugroho, kemarin.

Adanya aksi tersebut, warga pengungsi dari Keron ingin meyampaikan pesan agar bantuan yang diberikan bisa lebih bermanfaat dan tepat dengan situasi serta kondisi pengungsi yang kini mulai kembali ke rumah. "Kita butuh bantuan untuk pemulihan dusun dan desa. Juga bantuan agar kami bisa bangkit lagi menatap hari esok," tuturnya.

Keron sendiri masuk jarak sekitar 16 km dari puncak Merapi arah Barat. Di dusun tersebut, ada 108 pengungsi dari Dusun Babatan, Krinjing, Dukun yang notabene hanya berjarak sekitar 8 Km dari puncak.

"Meski kemarin kita sama-sama mengungsi, tetapi kini dusun kami menerima pengungsian. Ini yang juga harus kita perhatikan," ungkap Agung.

Untuk membantu pengungsi dari Babatan dan lainnya, warga Dusun Keron bersama para pengungsi ‘ngamen’ di Alun-Alun Kota Magelang sejak Sabtu (20/11) siang. Mereka bersama Sanggar Seni Saujana pimpinan Sujono menampilkan Jingkrak dan Topeng Ireng. "Aksi ini bukan untuk sekarang, tetapi untuk bantuan para pengungsi setelah kembali ke desa. Karena kalau sekarang, mereka masih bisa kita hidupi," ungkap Sujono.

Uang yang terkumpul dari mengamen akan difokuskan untuk program rekonstruksi. Terutama untuk perbaiakan rumah dan membeli benih, obat-obatan, pupuk serta lainnya, agar pengungsi bisa segera bangkit.

"Pemerintah juga harus peduli dengan persoalan ini," tegas Sujono. Rencananya, aksi tersebut akan terus dilakukan tiap hari Sabtu dan Minggu sampai dianggap cukup. Dalam ngamen yang dilakukan Sabtu lalu, berhasil terkumpul Rp1.040.700. Sedang aksi kemarin sore hanya mendapatkan Rp509.000.