Monday, November 8, 2010

Merapi Muntahkan Harta Rp 10 Trilyun


Hingga hari ke-12, Sabtu (6/11), Gunung Merapi belum menyudahi aktivitasnya dan masih mengeluarkan awan panas (wedhus gembel). Namun, di balik semua bencana itu, Merapi juga bekerja menyiapkan rejeki baru. Ya, Merapi juga telah memuntahkan harta berupa material vulkanik senilai sedikitnya Rp 10 triliun.

Sejak meletus, 26 Oktober, erupsi Merapi telah menewaskan sedikitnya 116 orang, 218 luka, dan memaksa sekitar 198.000 jiwa mengungsi. Namun bencana akibat letusan terdahsyat dalam 140 tahun terakhir itu juga membawa ‘berkah’.

Banjir lahar yang bersumber dari guguran material Merapi menjadi rejeki bagi warga bantaran Kali Code di Kledok Tukangan, Danurejan, Kota Jogjakarta. Haryanto, salah satu warga di kampung itu nekat melakukan aktivitasnya menambang pasir meski ancaman lahar dingin mengancam. Aktivitas menambang pasir juga dilakukan warga sekitar Muntilan di Sungai Pabelan, Magelang.

“Ini rejeki Merapi,” kata Haryanto yang ditemui sedang menambang pasir, Sabtu, (6/11). Selama dua jam dia bekerja secara tradisional menggunakan cangkul dan sekrop, dua gundukan pasir sudah berhasil ditambangnya. Dia mengaku sudah mendapat pesanan dari pengusaha pasir. Menurut Haryanto, pesanan pasir sudah datang karena pengusaha pasir tahu kualitas pasir Merapi setelah meletus sangat bagus. Kualitas satu. Harganya pun mahal.

Sejumlah hasil penelitian menyebut, pasir Merapi atau sering disebut pasir Muntilan mempunyai kadar lumpur hanya 3 persen. Padahal menurut Departemen Pekerjaan Umum pasir sudah disebut baik jika kadar lumpurnya 5 persen. Pasir Merapi memiliki angka kekekalan rata-rata 10 persen, sementara pasir pada umumnya memiliki angka kekekalan di atas 10 persen.

Untuk satu truk pasir, setara enam kubik pasir, Haryanto mendapat bayaran Rp 360.000. “Lumayan untuk menambah biaya hidup,” ujar pedagang di Pasar Beringharjo ini. Satu kubik pasir dihargai Rp 60.000 (di tingkat penambang). Dan sampai ke tangan konsumen, satu kubik pasir Merapi bisa terjual Rp 100.000.

Haryanto mengaku tak khawatir dengan kiriman banjir lahar dingin akan mencelakakan dirinya karena kedatangannya memiliki tanda-tanda. “Kalau pohon-pohon dan batu datang, itu berarti sebentar lagi akan datang kiriman lahar dingin,” kata dia.

Nah, begitu tanda-tanda itu muncul, maka dia langsung naik ke atas. Haryanto mengaku tahu ciri kedatangan banjir lahar dingin, setelah mengalami tiga kali letusan Merapi. “Jadi sudah hafal kedatangannya,” kata dia.

Pasir yang hanyut terbawa air itu, kata Haryanto, tak akan habis selama setahun. “Sebentar lagi warga di sini akan menambang, karena sudah mendapat pesanan,” ujarnya dilansir tempointeraktif.

Haryanto mengaku, petugas Camat sudah menginformasikan warga Kledok Tukangan untuk menjauhi bantaran sungai. Wali Kota Jogjakarta Herry Zudianto dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas, istri Sri Sultan Hamengku Buwono X berkali-kali mengimbau agar warga menjauhi bantaran untuk menghindari ancaman banjir lahar dingin yang sewaktu-waktu akan datang. Toh, peringatan itu tak efektif untuk mencegah warga menambang.

Ungkapan Haryanto bahwa Merapi membawa rejeki –selain membawa bencana– juga pernah disampaikan Dr Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM. Menurutnya Merapi sedang bekerja menyiapkan rejeki baru untuk masyarakat.

“Merapi itu sedang membuat rejeki baru untuk masyarakat, nanti ada pasir baru untuk warga sekitar,” kata Surono yang saat ini akrab disapa Mbah Rono, Rabu (3/11).

Karena itu, Mbah Rono meminta masyarakat yang tinggal di lereng Merapi bersabar untuk sementara. Dia juga meminta agar masyarakat tidak hanya terus mengeluh dengan adanya aktivitas Merapi saat ini.

“Merapi kan selama ini lebih banyak memberi daripada meminta, saat ini dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk mengerti. Biarkan dulu Merapi membuat rejeki baru,” kata ayah dua putri ini.

Pria yang menyelesaikan doktor geofisikanya di Prancis ini mengatakan, Merapi masih mengeluarkan awan panas yang biasa disebut wedhus gembel. Awan panas itu memiliki suhu di atas 600 derajat celcius yang sangat berbahaya baik bagi manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan.

“Jadi lebih baik jeda dulu sebentar, jangan merasa mengungsi itu seperti diusir dan sebagainya. Ini demi kebaikan bersama,” kata pria 55 tahun ini.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Dr R Sukhyar, Sabtu (6/11), memperkirakan jumlah material vulkanik hasil erupsi Gunung Merapi sejak 26 Oktober hingga 5 November telah mencapai sekitar 100 juta meter kubik. Material yang diantaranya berupa debu, pasir, kerikil, dan kerakal itulah yang nantinya terbawa air hujan menuju sedikitnya 13 sungai di sekitar Merapi. Merapi juga mengeluarkan gas dan awan panas (wedhus gembel). Kelak, setelah semua material Merapi sampai ke sungai, dan mulai ditambang, maka menjadi lahan rejeki baru bagi warga.

Dengan hitungan kasar, ada pasokan material baru dari Merapi sebanyak 100 juta meter kubik, maka belasan sungai di lereng Merapi diperkirakan menyimpan material (terutama pasir) senilai Rp 10 triliun. Itu dengan asumsi harga pasir Merapi satu meter kubik senilai Rp 100.000.

Namun, Sukhyar memperingatkan masyarakat sementara ini harus menjauhi bantaran sungai. Karena ancaman Gunung Merapi tidak hanya awan panas, tetapi juga banjir lahar apalagi saat terkena hujan yang cukup lebat di lereng gunung.

Sejumlah alur sungai yang perlu dihindari adalah Kali Woro, Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Krasak, Kali Senowo, Kali Trising dan Kali Apu. Berdasarkan pengamatan di lapangan, endapan awan panas bisa mencapai jarak 12 km di Kali Boyong dengan ketebalan hingga 10 meter.

Sukhyar mengatakan, masyarakat agar terus waspada karena aktivitas Gunung Merapi masih tetap tinggi berdasarkan data pengamatan secara instrumental dengan menggunakan seismograf di BPPTK. “Fluktuasi Gunung Merapi masih cukup tinggi sehingga status Merapi masih tetap ‘Awas’ dan daerah terdampak juga masih tetap sama, yaitu radius 20 kilometer (km),” katanya.

Kampung Mati

Sementara itu tim gabungan relawan, TNI, dan SAR, Sabtu (6/11), kembali menyisir kawasan lereng Merapi untuk melakukan evakuasi tahap II pascaletusan, 4 November. Langkah ini diambil setelah beberapa saat menyaksikan aktivitas Merapi relatif tenang. Namun tim evakuasi kembali dikejar awan panas ketika mencoba melakukan evakuasi di kawasan hutan bambu di Desa Glagaharjo, Sleman. Tak ayal, mereka pun lari tunggang langgang.

Jumlah orang yang dilaporkan hilang kepada polisi jaga di ruang forensik RSU dr Sar­djito Jogjakarta, pascaletusan 4 November, mencapai 135 orang. Sementara korban meninggal menurut data unit forensik rumah sakit hingga siang kemarin mencapai 81 orang. Adapun korban luka mencapai 104 orang. Total korban tewas sejak Merapi meletus 26 Oktober menjadi 144 orang.

Dari jumlah korban meninggal pascaletusan 4 November, baru 13 yang berhasil diidentifikasi (termasuk seorang anggota polisi). Jenazah sulit dikenali karena hampir semua gosong dan banyak kulit korban saling menempel satu sama lain.

Di depan ruang forensik rumah sakit masih dibanjiri keluarga korban. Orang-orang yang mengadukan kehilangan anggota keluarganya terus berdatangan. Sukardi, 49, warga Dusun Gadingan, Kelurahan Margomulyo, Kecamatan Cangkringan, hingga kemarin belum menemukan anaknya yang bernama Taufik Arifin, 22. Saat Merapi meletus, Arifin sibuk mengantar keluarga ke pengungsian dengan sepeda.

Polisi melarang warga masuk wilayah perkampungan di kawasan bahaya Merapi. Bagi yang berkepentingan diberikan kesempatan dengan durasi waktu yang dibatasi. Pantauan Tribunnews (grup Surya), lalu lintas radius 20 kilometer dari puncak Merapi dijaga ketat polisi. Warga yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Bahkan, banyak pengguna jalan yang membatalkan perjalanan dan kembali ke bawah, atau ke arah Jogjakarta.

Abu vulkanik masih tebal menyelimuti semua perkampungan di kawasan lereng Merapi. Tidak ada aktivitas orang karena hampir semuanya mengungsi. Praktis, perkampungan di lereng Merapi seperti kampung mati.


http://www.surya.co.id/2010/11/07/merapi-muntahkan-harta-rp-10-triliun.html

No comments:

Post a Comment