Sunday, March 14, 2010

Mbok Misinem Pilih Mati daripada Dibawa ke Dokter


Lengkap sudah penderitaan hidup Mbok Misinem. Hidup dibekap kemiskinan dan anak semata wayangnya tak berbakti, kini ia pasrah menunggu ajal. Ia ketakutan jika dibawa ke dokter. Di usia senja, Misinem, 68, warga RT 29/RW 09 Dusun Cangkring, Desa Bajulan, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, hidup mengenaskan. Selain hidup sebatang kara, perempuan ini ditinggal anak semata wayangnya. Janda ini juga digerogoti kanker perut sejak 20 tahun terakhir. Akibat kanker yang tak pernah tersentuh bantuan sosial dan medis, kini perutnya semakin membesar melebihi perut perempuan hamil tua.

Perempuan renta itu hanya dapat terbaring di amben tua di rumahnya yang tak terawat. Untuk makan dan minum, janda tua ini hanya mengandalkan belas kasihan dari orang atau tetangga dekatnya yang memiliki rasa iba terhadapnya. Mbok Misinem menjelaskan, bahwa dirinya memang sengaja tak mau diobatkan.

Mantan mandor tebu di era tahun 70 an ini mengaku takut dioperasi setelah dibawa ke rumah sakit. Padahal, selain membuat perut membesar, kanker itu menyebabkan tubuh korban kurus kering dan tak dapat berjalan. Untuk sekadar memiringkan badan pun serasa berat. “Saya sudah sakit sejak tahun 80-an. Jadi daripada dioperasi, saya memilih menunggu mati di atas pembaringan ini saja,” terangnya dalam dialek Jawa halus kepada Surya, Sabtu (13/3).

Pilihan Misinem tampaknya telah bulat. Tak sedikit kali para tetangga membujuknya untuk dibawa ke dokter. Namun, sia-sia. Si mbok teguh pada pendiriannya.

Ny Sariyem, 56, salah satu tetangga yang biasa memberi makan Mbok Misinem mengungkapkan, perempuan tua itu awalnya hanya merasakan nyeri dan sakit di perut. Selanjutnya, perut korban semakin membesar. Ia membenarkan warga sering membujuk untuk membawa Mbok Misinem ke rumah sakit. Akan tetapi, selalu mengalami kegagalan. “Kami sudah membujuknya untuk dirawat di rumah sakit atau bahkan dioperasi. Tetapi, dia malah ketakutan. Kami dan warga sekitar tak habis-habisnya membujuknya. Akan tetapi, hasilnya tetap sama nihil,” jelasnya.

Ny Sariyem menjelaskan, nenek itu kini pasrah dengan kondisi yang diderita. “Telentang dia bisa, tetapi katanya sakit dan berat,” ucapnya. Ny Sariyem mengungkapkan sebenarnya janda tua itu memiliki seorang anak. Akan tetapi, si anak tak mempedulikan kondisi dan kesehatan sang ibu. Sekadar menjenguk pun tidak dilakukan. “Anaknya jarang ke sini, jadi kami yang dekat sering merawat dan membantu serta mendengarkan keluhannya. Termasuk makan minum dan kebutuhan lain yang dibutuhkan Mbok Misinem,” ungkapnya.

Kepala Desa Bajulan, Yakub, membenarkan warganya itu menderita kanker perut sejak lama. Menurutnya, karena korban tidak mau diobatkan, membuat pihaknya tak dapat berbuat banyak. “Sampai sekarang kami sendiri belum mengetahui persis jenis kanker yang ada di perutnya hingga semakin membesar dan membuncit seperti itu. Kami juga sudah membuat laporan ke atasan. Penderitaannya sudah dialami sebelum saya menjabat kades. Namun hingga kini, Mbok Misinem masih di rumahnya dengan kondisi seadanya,” tandasnya.

http://www.surya.co.id/2010/03/14/mbok-misinem-pilih-mati-daripada-dibawa-ke-dokter.html

No comments:

Post a Comment