Wednesday, March 10, 2010

Gay Semarang Mulai Unjuk Gigi (2-Habis)

PADA pesta gay yang dipapar di tulisan sebelumnya, Suara Merdeka turut ambil bagian. Karena tidak termasuk dalam guest list, wartawan koran ini harus membayar tiket lebih mahal. Kalau anggota dikenakan Rp 40.000, kami harus membayar Rp 60.000. Selain mendapat stempel di tangan, kami masing-masing juga menerima satu piece kondom. Meski kikuk dan diliputi tanda tanya, kami terima saja pemberian gadis penjual tiket itu.
Masuk ke ruangan, suasana tak beda dari pesta dugem kebanyakan. Di sana ada DJ memainkan musik ajub-ajub, minuman, serta pengunjung yang duduk-duduk atau berjoget di bawah cahaya temaram. Hampir seluruh pengunjung berkelamin laki-laki. Beberapa tampak menyerupai perempuan, namun setelah diperhatikan, ternyata bukan sebenar-benarnya perempuan. Mereka kaum transgender, yang suka mendandani diri dengan atribut perempuan.
Di dalam ruangan, banyak pasangan gay terlihat bermesra-mesraan. Ada yang sekadar berpelukan, saling meraba, hingga berciuman bibir. Penampilan agogo boys yang liar dalam pesta itu menambah panas suasana. Oya, menurut seorang gay, sebut saja Clif, penari agogo rata-rata juga perperan sebagai “kucing” atau gay bayaran yang bisa diajak kencan. Tarifnya bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Jika ada yang tertarik dan kemudian terjadi kesepakatan, kencan yang lebih intim pun dilakukan. Lazimnya mereka menyelesaikan urusan syahwat itu di kamar hotel. Namun, ada kalanya tempat-tempat tak lazim seperti toilet menjadi pilihan. “Habis gimana, kalau udin (sudah-red) mupeng(muka pengin) di kamar mandi pun okelah. Maka nggak usah kaget kalau menemukan kondom bekas di toilet tempat hiburan,’’ tutur Clif sembari menyeruput Vibe kegemarannya.

Pergeseran
Keberanian kaum penyuka sesama jenis menunjukkan eksistensinya, kata gay lain bernama Visto, dipengaruhi oleh pergeseran cara pandang mereka terhadap diri sendiri. Mereka tak lagi melihat gay sebagai sesuatu yang menyimpang. Seiring perkembangan zaman, orientasi seksual yang cenderung kepada sesama jenis itu justru bergeser menjadi semacam tren.
Di sisi lain, sebagian masyarakat mulai menerima keberadaan mereka. Ini, kata Visto, dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi yang membawa perspektif baru terhadap cara pandang mereka terhadap gay. Televisi misalnya, kerap menayangkan acara yang membahas gay dengan segenap problematikanya. “Perusahaan juga sudah banyak yang tak memedulikan orientasi seksual pegawainya. Bahkan ada yang memilih gay untuk bidang pekerjaan tertentu. Alasannya, karena gay punya keunggulan yang tak dipunyai pemilik orientasi seks lain jenis.”
Sementara Dosen Sosiologi Komunikasi FISIP Undip, Triyono Lukmantoro melihat, kecenderungan kaum gay di Semarang yang kian membuka diri sebagai hal wajar, sebab semua orang, apa pun orientasi seksualnya, butuh menunjukkan eksistensi. Selama ini mereka merasa terkekang oleh sistem sosial yang memandang orientasi seks mereka sebagai penyimpangan. Oleh karena itu mereka harus berpayah-payah menutupi “kelainan” yang ada. Dalam situasi semacam ini, komunitas menjadi semacam katup penglepas ketegangan. “Hanya di dalam komunitaslah mereka merasa menjadi diri sendiri,” kata Triyono

sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/03/10/101643/Gay-Semarang-Mulai-Unjuk-Gigi-2-Habis

1 comment: