Friday, March 12, 2010

Purworejo: Tolak Terapi Gaib, Santri Bakar Alat Praktik

Sejumlah santri Pondok Pesantren (Pontren) Salafiyah Tombo Ati Desa Sumbersari Kecamatan Banyuurip memusnahkan alat praktik terapi gaib milik salah satu oknum murid setempat, Did alias Mas (38), Rabu (10/3) sekitar pukul 00.30. Santri menengarai praktik Did di lingkungan pontren sudah melenceng dari syariat islam serta dianggap mencemarkan nama baik pondok.

Pengasuh Pontren Salafiyah Tombo Ati, Kyai Ahmad Taufik mengatakan, Did merupakan salah satu santri yang datang ke pontren dengan alasan ingin mendalami ilmu agama. Pontren itu memiliki delapan orang santri. "Pontren ini hanya tempat mengaji dan mendalami ilmu agama Islam saja," ucapnya kepada wartawan, Kamis (11/3).

Santri membakar alat praktik berupa beberapa botol minyak wangi, kain kafan, serta beberapa perangkat lain yang kerap digunakannya berpraktik mengobati pasien. Selain itu, santri juga membongkar gubug pemondokan yang biasa digunakan Did untuk praktik pengobatan gaib.

Menurutnya, santri Pontren Salafiyah Tombo Ati sudah berkali-kali menentang dan mengingatkan tindakan Did yang dilakukan di lingkungan pondok. "Mereka berkali-kali menentang, akhirnya pemusnahan itu mungkin puncak penolakan santri terhadap praktik Did di pontren," paparnya.

Santri Pontren Salafiyah Tombo Ati, Siswo mengungkapkan, dugaan tindakan pengobatan yang melenceng dari syariat islam antara lain, Did pernah melakukan ritual penyembelihan ayam dan meneteskan darahnya di atas kertas bertulis ayat Al Quran. Did melakukan seluruh ritual itu di pondok bambu yang dibangun pontren untuk aktifitas belajar agama dan penginapan santri. "Untuk alasan mengobati, Did melakukan ritual itu. Namun, kami tentang dan sempat terhenti," ujarnya.

Ditambahkan, setelah penentangan itu, Did kembali beraktifitas dengan membuat selebaran berjudul 'Bengkel Gaib' yang memuat kemampuannya menyembuhkan secara supranatural. Alamat dalam selebaran itu mencatut nama Pontren Salafiyah Tombo Ati Desa Sumbersari Kecamatan Banyuurip. Lanjutnya, penulisan itu tanpa sepengatahuan pengelola pondok.

Selain itu, yang bersangkutan juga mencatumkan mahar atau biaya Rp 2,6 juta bagi peserta terapi. Lanjutnya, Did beralasan uang itu untuk mengembangkan pondok pesantren. "Kyai kami mengajarkan untuk tidak meminta imbalan sepeserpun kepada orang yang dibantu, kecuali, mereka memberi atas keinginan sendiri. Tindakan itu yang membuat kami kecewa dan meresahkan," imbuhnya.

Sementara itu, saat peristiwa Did tidak berada di lokasi kejadian. Menurut sejumlah santri, ia diduga pergi ke Solo. Bahkan, hingga berita ini diturunkan, KRjogja.com belum berhasil mendapat konfirmasi mengenai kejadian itu kepada Did
http://www.krjogja.com/news/detail/23803/Tolak.Terapi.Gaib..Santri.Bakar.Alat.Praktik.html

No comments:

Post a Comment