Tuesday, April 20, 2010

Lho Kok Pak Tanto Jadi Gayus

Suasana kampung RT 07 RW 06 Kelurahan Ngagelrejo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya sejak Senin (19/4) pagi heboh. Terutama setelah ketahuan bahwa salah satu warga di wilayah itu, yang tinggal di Jl Bratang Gede I gang E nomor 4, Hertanto, menjadi berita utama di koran-koran terbitan pagi.

”Wah, Pak Tanto jadi berita di koran. Lho kok dia jadi kayak Gayus?” seru Yayuk, 35, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di gang yang sama .Yayuk kemudian memberikan informasi berita itu ke tetangganya yang lain. Semuanya langsung membicarakan pria yang bekerja sebagai juru sita di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Rungkut Jl Jagir Wonokromo tersebut.

Tak berselang lama, puluhan wartawan mulai berdatangan di kampung tersebut. Mulai dari wartawan media elektronik, media cetak, hingga media online.

Mereka langsung memenuhi depan rumah berpagar hijau dengan bentuk rumah yang cukup sederhana itu, kendati dibandingkan dengan rumah-rumah yang ada di kanan-kirinya, rumah Tanto terlihat lebih tertata rapi dan bagus.

Keramaian itu menjadikan Ketua RT 07, Muhamad Fauzi, 43, ikut dibuat repot. Dia pun akhirnya menemani para wartawan yang berusaha mengorek informasi keluarga Tanto. Fauzi kemudian mengungkapkan bahwa keluarga Tanto telah tinggal di rumah itu lebih dari sepuluh tahun.

”Dalam keseharian, ya normal-normal saja pergaulan mereka. Tidak terlihat luar biasa. Memang jarang kumpul dengan tetangga, tapi setiap bertemu selalu menyapa dan ramah sama siapa saja,” ungkap Fauzi.

Sikap Tanto yang selalu diingat Fauzi maupun warga lainnya adalah dermawan. Menurut Agus Tridoyo, juga warga RT 07, Tanto dikenal cukup ringan tangan untuk memberi bantuan. ”Dia selalu menyumbang setiap kali ada acara. Bahkan untuk sumbangan ke masjid Baitul Taqwa, nilainya pasti lebih besar di bandingkan yang lain,” ungkap Agus sambil menolak menyebutkan angka pastinya.

Tentang kegiatan sehari-hari, Fauzi maupun Agus, mengaku sering melihat di hari libur Sabtu atau Minggu, Tanto kedatangan tamu. Tamu tersebut terlihat sebagai rekan-rekannya sesama penggemar burung. ”Kami tak tahu pasti, mungkin Pak Tanto itu juga kolektor burung perkutut,” lanjut Fauzi.

Seperti apa burung perkututnya, Fauzi maupun Agus mengaku tidak tahu pasti. Namun, menurut beberapa warga lainnya, burung perkutut yang dibuat koleksi itu mahal harganya.

Hanya saja, kendaraan yang dipakai Tanto selama ini hanya sepeda motor. Meski di rumah tersebut terlihat ada garasi besar yang bisa memuat mobil, namun setiap berangkat dan pulang kerja, Tanto terlihat hanya mengendarai sepeda motor merek Honda keluaran lima atau enam tahun yang lalu.

Tentang penangkapan Tanto oleh polisi, Fauzi mengaku sudah mendengarnya dari Pak RW 06. Kejadiannya sekitar dua minggu yang lalu. Terjadi sekitar pukul 18.00 WIB.

Sementara itu, petugas cleaning service yang jadi salah satu tersangka kasus penggelapan pajak, Siswanto, pintar menyembunyikan jati dirinya. Selain dikenal dermawan dengan kerap menyumbang dana pembangunan masjid, bapak dua anak ini bahkan dikenal tetangganya sebagai warga alim dengan predikat Pak haji. Siswanto juga dikenal royal dengan rutin membagi tunjangan hari raya (THR) bagi satpam Perumahan Taman Pondok Legi IV Blok H/20, Kelurahan Pepelegi, Kecamatan Waru, Sidoarjo —tempat tinggalnya.

Saat Surya mendatangi rumah Siswanto, rumah bercat merah dan berlantai dua ini tampak senyap. Pagar setinggi dua meter juga terkunci rapat. Sebuah lampu tampak tetap menyala meski hari masih sore. Sejumlah pintu jendela rumah berarsitektur gaya Eropa ini juga tampak tertutup rapat oleh kain korden.

Meski sejumlah warga enggan membeber latar belakang keseharian Siswanto sebelum ditangkap polisi, seorang warga yang mengaku dekat dengan Siswanto bersedia buka mulut.

Miftahul Huda, pengurus masjid At Taqwa bercerita jika dirinya mengenal Siswanto sejak dirinya menjadi pengurus takmir masjid tersebut. Lokasi masjid berjarak beberapa blok dari rumah Siswanto.

Huda bercerita, setiap tahun Siswanto selalu memberikan sumbangan dana bagi masjid tersebut. Sumbangan terakhir tahun lalu, besarnya mencapai Rp 17 juta. Saat itu, dana diberikan Siswanto bersamaan dengan pemberian Zakat Mal sesaat menjelang Lebaran berlangsung. “Dia memang kerap salat di masjid ini,” ujarnya.

Tak hanya menyumbang masjid, Siswanto bak Robinhood bagi warga setempat. Setiap tahun, Siswanto rutin membiayai acara ziarah Wali Songo yang juga diikuti warga setempat. Rombongan ziarah itu kerap memberangkatkan tujuh bus. Bantuan itu diberikan Siswanto sejak tahun 2006 lalu.

Sifat ‘royal’ Siswanto juga dinikmati para satpam yang bertugas di kawasan perumahan itu. Setiap Lebaran hendak tiba, Siswanto kerap membagi THR. Selain jajanan dan roti Lebaran, tiap satpam menerima amplop berisi uang. Semua satpam yang bertugas mendapat jatah dari Siswanto.

Para santri anak asuh Miftahul Huda juga kebagian rezeki. Hampir tiap tahun, di antara 100 santri Taman Pendidikan Alquran yang berstatus anak yatim piatu menerima bingkisan duit sebanyak Rp 500.000. Bagi-bagi rezeki itu dilakukan sejak Siswanto menghuni rumah tersebut, sekitar lima tahun lalu.

“Waktu kasus ini ramai diberitakan, banyak ibu-ibu yang kaget. Mereka bilang ‘ternyata uang yang dipakai biaya ziarah dari hasil korupsi ya’. Makanya istri dan anak pak Siswanto pulang ke kampungnya,” ucap Huda seraya mengaku lupa nama kampung halaman keluarga Siswanto.
http://www.surya.co.id/2010/04/20/lho-kok-pak-tanto-jadi-gayus.html

No comments:

Post a Comment